Internationalmedia.co.id – News Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah drastis yang bisa mengguncang fondasi keamanan Barat: potensi penarikan AS dari NATO. Aliansi transatlantik yang telah menjadi pilar utama selama puluhan tahun ini kini menghadapi "ujian" berat, terutama terkait perang AS dan Israel melawan Iran, yang menurut Gedung Putih, gagal dilewati oleh NATO.
Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada konferensi pers baru-baru ini. Ia secara blak-blakan menyebut bahwa aliansi tersebut telah "diuji, dan mereka gagal." Komentar Leavitt ini muncul sesaat sebelum pertemuan penting antara Presiden Trump dan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih.

"Sangat menyedihkan bahwa NATO telah memunggungi rakyat Amerika selama enam minggu terakhir, padahal rakyat Amerikalah yang telah mendanai pertahanan mereka," ujar Leavitt, mengutip langsung pernyataan Presiden Trump. Ia menambahkan bahwa Trump sedang bersiap untuk mengadakan "percakapan yang sangat jujur dan terbuka" dengan Rutte.
Setelah pertemuan tersebut, Mark Rutte dalam wawancara dengan CNN juga menggambarkan diskusi mereka sebagai "jujur dan terbuka." Rutte menegaskan kembali dukungannya terhadap Presiden Trump, namun ia juga menekankan bahwa NATO telah memberikan dukungan signifikan melalui logistik dan akses ke pangkalan militer. Ketika berulang kali ditanya apakah Trump secara eksplisit menyatakan akan menarik AS dari aliansi tersebut, Rutte memilih untuk tidak menjawab secara langsung.
"Apakah presiden mengatakan dia akan mencoba menarik diri dari NATO atau, setidaknya, tidak mendukung NATO sebesar presiden-presiden lain?" tanya pembawa acara CNN Jake Tapper. Rutte hanya menjawab, "Jelas ada kekecewaan. Tetapi pada saat yang sama dia juga mendengarkan dengan saksama argumen saya tentang apa yang terjadi."
Ketegangan ini semakin diperparah oleh penolakan negara-negara anggota NATO untuk menyumbangkan pasukan militer ke dalam konflik tersebut, di luar manuver pertahanan. Situasi ini menyoroti keretakan yang semakin dalam dalam aliansi yang selama ini menjadi benteng pertahanan kolektif Barat, memunculkan pertanyaan serius tentang masa depan dan relevansi NATO di bawah kepemimpinan Trump.

