Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara resmi mengumumkan bahwa militer AS telah memulai operasi blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah drastis ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz dan menerima kesepakatan damai yang diharapkan dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lebih dari enam minggu. Pengumuman ini disampaikan pada Selasa, 14 April 2026.
Berbicara dari Gedung Putih, Trump menegaskan, "Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia, karena itulah yang sedang mereka lakukan." Pernyataan ini menggarisbawahi alasan di balik keputusan blokade. Meski demikian, Trump juga membuka pintu dialog, mengisyaratkan kesediaan AS untuk berunding. "Saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami telah dihubungi oleh pihak lain," ungkapnya, menambahkan bahwa "mereka ingin mencapai kesepakatan."

Sebelum blokade resmi diberlakukan, Teheran telah merespons wacana ini dengan ancaman serius. Iran menyatakan akan menargetkan semua pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman yang menjadi sekutu AS, jika blokade dilanjutkan. Dampak langsung dari tindakan AS ini mulai terlihat. Menurut data pelacak kapal MarineTraffic di platform X, setidaknya dua kapal tanker yang berlayar mendekati Selat Hormuz pada Senin sebelumnya dilaporkan segera berbalik arah begitu blokade dimulai.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi bahwa blokade tersebut secara efektif membatasi "seluruh garis pantai Iran, termasuk pelabuhan dan infrastruktur energi." Namun, dalam pemberitahuan kepada para pelaut, UKMTO juga menjelaskan bahwa transit melalui Selat Hormuz menuju atau dari lokasi non-Iran dilaporkan tidak terhambat, meskipun kapal-kapal yang melintas "mungkin akan menemui kehadiran militer" di area tersebut.
Komando Pusat militer AS (CENTCOM) turut mengumumkan bahwa blokade akan diberlakukan secara ketat "terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran" di Teluk Persia dan Teluk Oman. Menariknya, keputusan CENTCOM untuk tetap mengizinkan kapal-kapal yang berlayar antar pelabuhan non-Iran melintasi selat tersebut menandai sedikit pelonggaran dari ancaman awal Trump yang berpotensi memblokade seluruh jalur air tersebut.
Melalui platform media sosialnya, Trump juga mengeluarkan peringatan keras. Ia mengklaim angkatan laut Iran telah "benar-benar dihancurkan" namun mengakui keberadaan "kapal serang cepat" milik Teheran. Presiden AS itu menegaskan, "jika ada kapal-kapal ini yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dihancurkan."
Iran, di sisi lain, tidak tinggal diam dan melontarkan ancaman balasan yang tak kalah serius. Islamic Republic of Iran Broadcasting melaporkan pada hari Senin bahwa Teheran menyatakan, "Keamanan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah untuk semua orang atau untuk tidak seorang pun." Sebuah pernyataan militer Iran lebih lanjut memperingatkan, "tidak ada pelabuhan di wilayah tersebut yang akan aman" jika konflik terus berlanjut.

