Sebuah laporan mengejutkan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini mengungkap angka pilu: hampir 700 warga sipil tewas akibat serangkaian serangan drone di Sudan sejak awal tahun ini. Tragedi ini menambah daftar panjang penderitaan di negara yang kini disebut PBB sebagai "krisis kemanusiaan terbesar di dunia". Internationalmedia.co.id – News mengabarkan, situasi di Sudan semakin memburuk menjelang peringatan tiga tahun konflik internal yang tak kunjung usai.
Konflik bersenjata yang kini memasuki tahun keempat antara militer Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) telah menelan puluhan ribu korban jiwa, memaksa lebih dari 11 juta penduduk mengungsi dari rumah mereka, serta menjerumuskan berbagai wilayah ke ambang kelaparan dan kekurangan pangan ekstrem.

Tom Fletcher, Kepala Bantuan PBB, dalam pernyataan terbarunya yang dirilis menjelang peringatan tiga tahun perang saudara di Sudan, secara spesifik menyoroti dampak serangan udara. "Dalam tiga bulan pertama tahun ini saja, hampir 700 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan-serangan drone," ujar Fletcher, seperti dikutip oleh internationalmedia.co.id. Pernyataan ini dirilis sehari sebelum peringatan tiga tahun perang sipil yang memilukan di Sudan.
Serangan drone yang terjadi hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir telah mengganggu kehidupan masyarakat di seluruh Sudan, terutama di Kordofan bagian selatan yang kini menjadi pusat pertempuran, serta di wilayah barat yang dikuasai RSF, termasuk Darfur. Fletcher juga memperingatkan, "Jutaan orang telah diusir dari rumah-rumah mereka di seluruh Sudan dan di luar perbatasannya, dengan seluruh komunitas dikosongkan dan keluarga-keluarga dipindahkan berulang kali. Risiko ketidakstabilan regional yang lebih luas sangat tinggi."
Fletcher menambahkan bahwa tiga tahun konflik telah menghancurkan negara yang menyimpan banyak harapan, dengan hampir 34 juta orang โ atau nyaris dua dari setiap tiga penduduk โ kini sangat membutuhkan dukungan kemanusiaan. Kelaparan semakin meningkat seiring mendekatnya musim paceklik, sementara ratusan ribu anak menderita kekurangan gizi akut dan jutaan lainnya kehilangan akses pendidikan. Lebih lanjut, wanita dan anak perempuan menghadapi kekerasan seksual yang sistemik dan brutal.
Meski demikian, upaya kemanusiaan menghadapi tantangan besar. Tahun lalu, para pekerja kemanusiaan berhasil menjangkau 17 juta orang, dan tahun ini menargetkan 20 juta. Namun, "Respons tersebut sangat kekurangan dana," tegas Fletcher. Senada, Koordinator Tetap PBB di Sudan, Denise Brown, pada Senin (13/4) mengungkapkan bahwa permohonan PBB untuk menggalang dana sebesar US$ 2,9 miliar untuk Sudan tahun ini baru terpenuhi 16 persen, menunjukkan penurunan kontribusi bantuan internasional dari negara-negara anggota.
Fletcher menyerukan tindakan segera: "Kita membutuhkan tindakan sekarang โ untuk menghentikan kekerasan, melindungi warga sipil, memastikan akses ke komunitas yang paling terancam, dan mendanai respons tersebut. Peringatan yang suram dan menyedihkan ini menandai satu tahun lainnya ketika dunia gagal menghadapi ujian Sudan."

