Serangan rudal Israel yang menewaskan sedikitnya delapan warga Palestina, sebagian besar anak-anak, di Jalur Gaza telah memicu kecaman internasional. Internationalmedia.co.id melaporkan, insiden memilukan ini terjadi pada Minggu (13/7) saat anak-anak sedang mengambil air di sebuah titik distribusi air di kamp pengungsi Nuseirat. Lebih dari selusin lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.
Militer Israel, dalam keterangannya kepada Reuters, mengklaim serangan tersebut merupakan kesalahan teknis. Mereka menyatakan bahwa rudal yang diluncurkan sebenarnya menargetkan seorang militan Jihad Islam, namun mengalami malfungsi dan meleset hingga “puluhan meter” dari target yang dituju. Pihak militer menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban sipil dan menyebut insiden tersebut sedang dalam penyelidikan.

Namun, penjelasan tersebut diragukan banyak pihak. Ahmed Abu Saifan, seorang dokter gawat darurat di Rumah Sakit Al-Awda, mengatakan rudal menghantam titik distribusi air, menewaskan sedikitnya enam anak-anak. Kekurangan air di Gaza semakin parah dalam beberapa pekan terakhir akibat kekurangan bahan bakar yang mengganggu operasional fasilitas desalinasi dan sanitasi. Warga terpaksa mengandalkan titik pengumpulan air seperti tempat kejadian tragedi tersebut.
Tragedi ini bukan satu-satunya yang terjadi pada hari Minggu. Serangan lain di pasar Gaza City menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk Ahmad Qandil, seorang konsultan rumah sakit terkemuka. Pihak militer Israel belum memberikan komentar terkait serangan kedua ini.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan angka kematian akibat konflik Israel-Hamas yang dimulai Oktober 2023 telah melampaui 58.000 jiwa, dengan lebih dari 139 kematian terjadi dalam 24 jam terakhir. Lebih dari separuh korban tewas merupakan perempuan dan anak-anak. Angka ini tidak membedakan antara warga sipil dan pejuang Hamas. Peristiwa ini sekali lagi menyoroti dampak mengerikan konflik tersebut bagi warga sipil, khususnya anak-anak.