Internationalmedia.co.id melaporkan tragedi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza. Serangan brutal Israel telah menewaskan sedikitnya 115 warga Palestina, termasuk 19 orang yang meninggal karena kelaparan dalam sehari. Angka kematian yang mengejutkan ini menambah daftar panjang korban konflik yang tak kunjung usai.
Insiden memilukan terjadi pada Minggu (20/7) ketika pasukan Israel menembaki warga sipil yang tengah berupaya mendapatkan makanan di perlintasan Zikim, Rafah, dan Khan Younis. Di Zikim, setidaknya 79 warga Palestina tewas ditembak saat berusaha mengakses bantuan pangan dari konvoi PBB. Sembilan lainnya tewas di Rafah, menambah jumlah korban di lokasi tersebut menjadi 45 orang dalam 24 jam. Empat korban lainnya ditemukan tewas di dekat titik bantuan di Khan Younis.

Rizeq Betaar, seorang saksi mata yang selamat dari serangan di Zikim, menggambarkan keputusasaan yang melanda. Ia menceritakan bagaimana ia dan warga lainnya berupaya membawa korban luka ke rumah sakit tanpa bantuan medis yang memadai. "Tidak ada ambulans, tidak ada makanan, tidak ada kehidupan, tidak ada cara untuk bertahan hidup lagi," ujarnya pilu. Kisah serupa disampaikan Osama Marouf, yang membantu mengangkut seorang pria tua yang terluka parah. "Saya bahkan tidak menginginkan tepung lagi, asal bisa selamat," ucapnya.
Militer Israel mengklaim penembakan dilakukan sebagai tembakan peringatan untuk menghilangkan ancaman langsung. Namun, klaim ini dibantah oleh Program Pangan Dunia (WFP) PBB. WFP menyatakan bahwa korban hanyalah warga sipil yang berusaha mendapatkan makanan untuk keluarga mereka yang kelaparan. WFP menjelaskan bahwa penembakan terjadi tepat setelah konvoi bantuan pangan PBB melintas.
Kekejaman ini terjadi meskipun Israel menjamin perbaikan kondisi operasional lembaga kemanusiaan di Gaza. WFP memperingatkan bahwa krisis kelaparan telah mencapai tingkat yang mengerikan, dengan 90.000 perempuan dan anak-anak sangat membutuhkan perawatan. Hampir sepertiga penduduk Gaza tidak makan selama berhari-hari. Kementerian Kesehatan Gaza menambahkan bahwa setidaknya 19 warga Palestina tewas kelaparan pada hari Minggu, dan ratusan lainnya menderita malnutrisi. Sejak perang dimulai pada 2023, setidaknya 71 anak telah meninggal karena malnutrisi, sementara 60.000 lainnya menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi parah. Situasi ini membutuhkan peningkatan besar-besaran dalam distribusi bantuan pangan untuk mencegah lebih banyak kematian.