Internationalmedia.co.id – Ketegangan di Rafah Timur kembali memanas. Militer Israel mengklaim telah berhasil melumpuhkan empat militan Palestina yang muncul dari terowongan di wilayah tersebut, tepatnya di Jalur Gaza selatan. Operasi ini semakin mempertegas dugaan keberadaan jaringan terowongan yang digunakan oleh puluhan pejuang Hamas sebagai tempat persembunyian di bawah wilayah yang dikuasai Israel.
Menurut pernyataan resmi militer Israel, serangan itu dilakukan setelah mengidentifikasi empat orang yang keluar dari infrastruktur bawah tanah. Dengan panduan dari Angkatan Udara Israel, pasukan darat berhasil "menghabisi" para militan tersebut.

"Pasukan IDF (tentara Israel) di Komando Selatan tetap dikerahkan sesuai dengan perjanjian gencatan senjata dan akan terus beroperasi untuk menyingkirkan ancaman langsung apa pun," lanjut pernyataan tersebut.
Sebelumnya, pada hari Jumat, militer Israel juga melaporkan bahwa lebih dari 30 pejuang yang mencoba melarikan diri dari terowongan telah tewas. Sumber internationalmedia.co.id di lapangan menyebutkan bahwa negosiasi mengenai nasib para pejuang yang masih berada di jaringan terowongan Gaza selatan masih berlangsung.
Hamas sendiri, pada hari Rabu, secara terbuka meminta negara-negara penengah untuk menekan Israel agar mengizinkan jalur aman bagi para pejuangnya. Ini menjadi pengakuan pertama dari kelompok Islamis tersebut mengenai situasi genting yang mereka hadapi di dalam terowongan.
Gencatan senjata yang ditengahi oleh AS, dengan mediasi dari Mesir, Turki, dan Qatar, seharusnya mulai berlaku pada 10 Oktober. Namun, kedua belah pihak saling menuduh melanggar ketentuan gencatan senjata tersebut.
Kondisi ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang mendalam di Jalur Gaza. Sementara itu, keberadaan jaringan terowongan dan nasib para pejuang di dalamnya terus menjadi sorotan utama dalam dinamika konflik Israel-Palestina.
