Internationalmedia.co.id – News – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni baru-baru ini meluncurkan sebuah sistem digital inovatif bernama Decision Support System (DSS) Kehutanan ‘Jaga Rimba’. Inisiatif ini digadang-gadang sebagai langkah krusial untuk memperkuat tata kelola kehutanan Indonesia, menjadikannya lebih terintegrasi, transparan, dan berbasis data, sekaligus memperketat pengawasan terhadap kawasan hutan di seluruh penjuru negeri.
Raja Juli mengakui bahwa pengelolaan kawasan hutan di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan berlapis. Ia menyoroti kelemahan sistem sebelumnya, di mana pembaruan peta arahan oleh masing-masing direktorat jenderal yang dilakukan setiap enam bulan sekali berpotensi besar menimbulkan tumpang tindih perizinan. "Itulah yang membuat kemudian ada konflik sosial di bawah, ada persoalan bisnis yang tidak kunjung selesai, ada persoalan transparansi kemudian juga punya masalah di kemudian hari dengan aparat penegak hukum," jelas Raja Juli saat peluncuran, menggarisbawahi dampak negatif dari sistem yang kurang terkoordinasi.

DSS Jaga Rimba hadir bukan sekadar aplikasi baru, melainkan sebagai bagian fundamental dari transformasi tata kelola kehutanan. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi lintas direktorat jenderal, informasi geospasial tematik, hingga seluruh aturan yang menjadi dasar dalam memahami keterkaitan antara kawasan, perizinan, serta para pemegang hak dan kewajiban. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi ‘ego sektoral’ antar-direktorat yang selama ini kerap menghambat efisiensi dan koordinasi.
Menteri Kehutanan juga menekankan bahwa Jaga Rimba merupakan instrumen vital dalam mewujudkan Kebijakan Satu Peta Kehutanan (One Map Policy Kehutanan). Kebijakan ini bertujuan menciptakan satu peta kawasan hutan yang menjadi referensi tunggal dan bersama dalam pengelolaan serta pengawasan. Saat ini, sistem tersebut telah didukung oleh 82 Informasi Geospasial Tematik yang dihasilkan oleh 24 unit kerja eselon II, serta 123 Rules and Relations yang memungkinkan analisis data yang lebih komprehensif dan akurat.
Salah satu fitur paling menonjol dari DSS Jaga Rimba adalah Early Warning System (EWS). Fitur canggih ini mampu memberikan notifikasi otomatis jika terdeteksi potensi tumpang tindih perizinan, irisan permohonan, bahkan titik-titik panas (hotspot) yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. Dengan adanya EWS, langkah mitigasi dan tindak lanjut dapat dilakukan dengan jauh lebih cepat dan berbasis pada data yang valid.
"Semua sudah terintegrasi jadi semua peta, semua perizinan, insyaallah akan bisa kita pantau pakai satu aplikasi," ujar Raja Juli. Ia berharap, kehadiran sistem ini akan memberikan kemudahan bagi pihak luar untuk berusaha dengan lebih nyaman dan terukur, investasi dapat masuk dengan lebih terencana, serta proses perizinan menjadi lebih sederhana dan cepat, sehingga tidak lagi menimbulkan masalah di kemudian hari. Meskipun diakui belum sempurna, Raja Juli menegaskan bahwa niat sederhana di balik Jaga Rimba adalah untuk menjaga hutan, menjaga rimba, dan pada akhirnya, menjaga kehidupan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
