Internationalmedia.co.id melaporkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengajukan syarat untuk mengakhiri konflik di Gaza. Syarat tersebut disampaikan melalui Utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, saat perundingan tidak langsung di Doha yang bertujuan menyepakati gencatan senjata sementara. Netanyahu menegaskan kesediaan Israel bernegosiasi gencatan senjata permanen, namun dengan satu syarat krusial: demiliterisasi Gaza.
Dalam pesan video dari Washington, Netanyahu menyatakan bahwa syarat fundamental bagi Israel adalah Hamas meletakkan senjata dan kehilangan kemampuan pemerintahan maupun militer. Pernyataan ini langsung mendapat tanggapan keras dari pihak Hamas.

Bassem Naim, pejabat senior Hamas, menolak keras syarat tersebut. Kepada AFP, Naim menyatakan penolakan Hamas terhadap "berlanjutnya pendudukan tanah kami" dan penolakan terhadap pengurungan warga Palestina dalam "kantong-kantong terisolasi". Naim secara khusus menyoroti penolakan Hamas terhadap kontrol Israel atas kota Rafah, perbatasan dengan Mesir, dan Koridor Morag antara Rafah dan Khan Yunis.
Perlu diketahui, upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata dalam konflik Gaza yang telah berlangsung selama 21 bulan ini telah mendominasi pembicaraan Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington. Kebuntuan negosiasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai masa depan perdamaian di kawasan tersebut.
