Stasiun Karet, salah satu simpul penting transportasi KRL Commuter Line di Jakarta, resmi mengakhiri operasionalnya mulai 1 September 2026. Seluruh layanan penumpang akan dialihkan sepenuhnya ke Stasiun BNI City. Langkah ini merupakan bagian dari proyek integrasi yang digagas oleh KAI Daop 1 Jakarta dan KAI Commuter. Melansir laporan Internationalmedia.co.id – News, hari Senin, 31 Agustus 2026, menjadi momen terakhir bagi Stasiun Karet melayani para pengguna setia KRL.
Pengalihan ini berarti para komuter yang sebelumnya naik atau turun di Stasiun Karet kini akan menggunakan Stasiun BNI City (juga dikenal sebagai Stasiun Sudirman Baru) sebagai titik keberangkatan dan kedatangan. Akses penghubung berupa selasar telah disiapkan di samping Stasiun Karet, memudahkan perpindahan penumpang menuju Stasiun BNI City. Melalui akun X resminya, KAI Commuter menjelaskan bahwa fasilitas penunjang di Stasiun BNI City telah siap, termasuk gate elektronik, loket, dan hall di sisi barat yang terintegrasi langsung dengan akses dari area Karet.

KAI Commuter memastikan bahwa integrasi ini tidak akan mengubah jadwal atau rute perjalanan Commuter Line dari dan menuju lintas Kampung Bandan/Cikarang. Sebanyak 264 perjalanan tetap beroperasi melalui Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru/BNI City, hanya saja titik naik dan turun penumpang Stasiun Karet berpindah ke Stasiun BNI City. Demikian pula dengan layanan Commuter Line Basoetta di Stasiun BNI City yang tetap berjalan normal tanpa perubahan selama proses pekerjaan ini.
Pada hari terakhir operasionalnya, pantauan tim internationalmedia.co.id di lokasi menunjukkan Stasiun Karet masih dipadati ribuan penumpang. Terutama peron 1 yang melayani arah Bekasi, Manggarai, dan Cikarang terlihat lebih ramai dibandingkan peron 2. Para pekerja tampak antre untuk keluar stasiun, sementara jadwal kedatangan KRL terpantau normal, dengan kereta tiba setiap sekitar lima menit.
Keputusan pengalihan ini tentu memicu beragam respons dari para ‘anak kereta’ (anker) yang setiap hari bergantung pada Stasiun Karet.
Aca, seorang pekerja dari Tangerang yang rutin menggunakan Stasiun Karet, mengaku tidak keberatan dengan perubahan ini. Menurutnya, Stasiun Karet yang relatif kecil mungkin akan membuat mobilitas penumpang lebih mudah jika dipindahkan ke BNI City. "Sebenarnya mungkin karena Karet ini kecil ya stasiunnya. Jadi kalau misalnya dipindahkan di BNI City itu buat mobilisasinya lebih mudah aja buat penumpang-penumpangnya gitu," ujar Aca. Ia berharap pemindahan ini bisa mempermudah mobilitas dan membuat perjalanan lebih efisien.
Namun, Nadia, penumpang asal Bekasi, memiliki pandangan yang berbeda. Ia merasa pengalihan ini justru akan menambah jarak tempuh ke kantornya. "Jujur kalau dari aku nggak setuju ya. Dari aku nggak setuju karena aku dari Stasiun Karet tuh dimudahkan banget karena ke mana-mana tuh dekat. Jadi aku ke kantor juga dari Stasiun Karet tuh jalan. Pun kalau misal jadi ke BNI City tuh jadi jauh banget jalannya gitu," keluhnya. Nadia juga menyoroti kurangnya sosialisasi terkait pemindahan ini. Ia berharap ada panduan yang lebih jelas, seperti video tutorial penggunaan selasar, agar penumpang tidak kebingungan.
Untuk memastikan kelancaran transisi, internationalmedia.co.id sempat menjajal jalur pejalan kaki yang disiapkan dari Stasiun BNI City menuju area Karet. Papan penunjuk arah sudah terpasang jelas di sepanjang jalur keluar Stasiun BNI City. Selasar penghubung sepanjang sekitar 450 meter ini diperkirakan dapat ditempuh dalam waktu 5 menit berjalan kaki. Sebagian selasar juga telah dilengkapi kanopi dan pepohonan, memberikan kenyamanan dan keteduhan bagi para pejalan kaki.
Dengan ‘pensiunnya’ Stasiun Karet, era baru transportasi KRL di kawasan Sudirman pun dimulai, membawa harapan akan efisiensi sekaligus tantangan adaptasi bagi ribuan penumpang setianya.
