Internationalmedia.co.id – Kabar duka menyelimuti Sri Lanka. Banjir dan tanah longsor dahsyat akibat Siklon Ditwah telah merenggut nyawa 334 orang, dan hampir 400 lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana ini menjadi yang terburuk sejak 2017, meninggalkan luka mendalam bagi bangsa Sri Lanka.
Setelah seminggu diguyur hujan lebat, intensitas hujan di Sri Lanka memang telah mereda. Namun, dampaknya masih terasa, terutama di dataran rendah ibu kota Kolombo yang masih terendam banjir. Lebih dari satu juta orang terdampak langsung oleh bencana ini, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.

Sungai Kelani meluap, memicu banjir besar di bagian utara Kolombo. Pusat Manajemen Bencana (DMC) melaporkan bahwa meskipun Siklon Ditwah telah menjauh, hujan lebat di hulu sungai menyebabkan air meluap dan membanjiri daerah dataran rendah di sepanjang tepian sungai.
Presiden Anura Kumara Dissanayake telah mengumumkan keadaan darurat untuk mempercepat penanganan dampak siklon dan meminta bantuan internasional. India menjadi negara pertama yang merespons dengan mengirimkan pasokan bantuan, dua helikopter, dan tim penyelamat. Jepang juga menjanjikan bantuan dan akan mengirimkan tim untuk menilai kebutuhan mendesak.
DMC melaporkan bahwa beberapa jalan di provinsi tengah yang paling parah terkena dampak masih belum dapat diakses. Lebih dari 20.000 rumah hancur, dan 122.000 orang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara. Sekitar 833.000 orang lainnya membutuhkan bantuan mendesak setelah kehilangan tempat tinggal akibat banjir.
Pasukan dari angkatan darat, laut, dan udara telah dikerahkan bersama pekerja sipil dan relawan untuk membantu upaya bantuan. Namun, sekitar sepertiga wilayah negara masih tanpa listrik atau air bersih akibat kabel listrik yang putus dan fasilitas pemurnian air yang terendam. Koneksi internet juga terputus, menghambat upaya koordinasi dan komunikasi.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan Sri Lanka terhadap cuaca ekstrem. Banjir terburuk sebelumnya terjadi pada Juni 2003, menewaskan 254 orang. Tragedi ini menuntut perhatian serius terhadap mitigasi bencana dan kesiapsiagaan untuk melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim.
