Internationalmedia.co.id – Gelombang protes besar melanda Manila, Filipina, saat ribuan warga turun ke jalan menuntut keadilan atas skandal proyek pengendalian banjir yang diduga fiktif. Kemarahan publik memuncak akibat dugaan korupsi yang melibatkan pejabat, anggota parlemen, dan perusahaan konstruksi, yang dituduh menyelewengkan dana miliaran dolar.
Aksi unjuk rasa yang berpusat di Taman Luneta, dekat istana presiden, menjadi simbol kemarahan rakyat. Massa membawa spanduk bergambar buaya, metafora untuk korupsi sistemik yang merajalela di negara kepulauan itu. Yel-yel "Tangkap mereka di penjara sekarang!" menggema di sepanjang jalan raya EDSA, mengingatkan pada gerakan bersejarah yang menggulingkan Marcos pada tahun 1986.

"Ada orang-orang yang meninggal dunia karena korupsi yang terjadi," ungkap Jessie Wanaluvmi J, seorang penari drag yang ikut serta dalam aksi tersebut. Pernyataan ini mencerminkan dampak nyata dari korupsi terhadap kehidupan warga Filipina, terutama setelah kota-kota terendam banjir akibat topan dahsyat.
Pemerintah Filipina telah menangkap delapan anggota Departemen Pekerjaan Umum dan Jalan Raya terkait skandal ini. Namun, janji pemerintah untuk menyeret "orang-orang penting" lainnya ke pengadilan belum meredakan kemarahan publik. Sejarah panjang skandal korupsi di Filipina, di mana politisi berkuasa sering lolos dari hukuman berat, membuat masyarakat skeptis.
Lebih dari 17.000 polisi dikerahkan untuk mengamankan aksi demonstrasi. Insiden bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa bertopeng pada demonstrasi sebelumnya, yang berujung pada ratusan penangkapan, menjadi pelajaran berharga. Aksi unjuk rasa kali ini diharapkan berlangsung damai, namun semangat perlawanan rakyat Filipina terhadap korupsi tetap membara. Skandal banjir ini menjadi ujian berat bagi pemerintahan Filipina, yang dituntut untuk membuktikan komitmennya dalam memberantas korupsi dan melindungi kepentingan rakyat.
