Internationalmedia.co.id – News melaporkan, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, atau akrab disapa Rerie, menegaskan bahwa Situs Batujaya di Karawang, Jawa Barat, bukan sekadar tumpukan peninggalan purbakala biasa. Lebih dari itu, situs bersejarah ini adalah bukti nyata peradaban luhur bangsa Indonesia yang telah berakar kuat sejak berabad-abad silam, jauh sebelum era modern.
Dalam keterangannya pada Sabtu (13/6), Rerie menjelaskan, "Batujaya bukan sekadar situs, dia adalah saksi bagaimana masyarakat hidup berdampingan pada masa lalu, berdampingan dalam keberagaman." Ia menyoroti kompleks percandian Buddha di Batujaya yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi, menjadikannya jauh lebih tua dari Candi Borobudur yang berdiri pada abad ke-8. Menariknya, pada periode yang sama, kerajaan-kerajaan Hindu juga mulai berkembang di Nusantara, namun kedua komunitas ini mampu hidup rukun.

"Di sinilah sebetulnya ada sebuah pembelajaran bahwa nilai toleransi itu sudah hidup dan berakar sejak berabad-abad lalu di Nusantara," ungkap Rerie. Ia melanjutkan, keberadaan Empat Pilar Kebangsaan – Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika – bukanlah hasil dari kekosongan sejarah. "Empat Pilar Kebangsaan itu hadir dari perjalanan panjang bangsa ini. Berbagai pikiran besar bertemu, yang kemudian membentuk kita menjadi satu bangsa. Peninggalan bersejarah di Batujaya adalah bagian penting dari perjalanan sejarah itu," tegasnya, menekankan bahwa situs ini adalah fondasi penting dalam identitas kebangsaan.
Anggota Komisi X DPR RI ini juga mengingatkan betapa krusialnya pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah. Tanpa kesadaran akan masa lalu, bangsa Indonesia berisiko kehilangan arah dan jati diri. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tanpa fondasi budaya yang kokoh, sebuah bangsa akan mudah tercerabut dari akarnya, rentan terhadap pengaruh asing yang merusak.
Pada kesempatan yang sama, Rerie menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para mahasiswa arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) yang tengah melakukan ekskavasi di Batujaya. "Apa yang dilakukan anak-anak semua adalah sebuah kerja kebangsaan. Sebuah pekerjaan yang menggali kembali masa lalu, bukan hanya sebagai barang yang kemudian ditampakkan, tapi banyak nilai yang terkandung di dalamnya," pujinya, menggarisbawahi bahwa pekerjaan mereka adalah upaya menemukan kembali nilai-nilai luhur.
Kepada para calon arkeolog tersebut, Rerie berpesan agar mereka menjadi penjaga ingatan bangsa. Di tengah derasnya arus informasi era digital, Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini mengakui adanya tantangan besar berupa "pseudo-arkeologi" atau cerita-cerita karangan yang marak beredar di masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar bangsa ini mampu menjawab berbagai tantangan sejarah yang muncul di masa kini dan mendatang.
"Tugas kita semua adalah menunjukkan dan memahami bahwa warisan budaya yang ada, seperti peninggalan bersejarah di Situs Batujaya adalah bagian dalam sejarah peradaban bangsa ini dengan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, penting untuk membangun karakter generasi penerus bangsa," pungkasnya, menegaskan kembali urgensi pelestarian dan pemahaman sejarah.
Pernyataan penting ini disampaikan Rerie dalam acara Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI bertema "Batujaya: Warisan Peradaban dan Identitas Bangsa," yang diselenggarakan di kawasan Situs Percandian Batujaya, Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (12/6) sore. Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa, Wakil Bupati Karawang H. Maslani, Wakil Ketua DPRD Karawang Dian Fahrud Jaman, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Dr. Untung Yuwono, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat Retno Raswaty, Ketua Departemen Arkeologi FIB UI Prof. Cecep Eka Permana, dan Ketua Program Studi Arkeologi UI Dr. Ghilman Assilmi.
Kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari kolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Arkeologi FIB UI yang sedang melaksanakan kuliah lapangan dan praktik penggalian di Situs Batujaya. Sebanyak 90 mahasiswa terlibat dalam kegiatan ini, menjadikannya proses pembelajaran langsung yang berharga mengenai arkeologi, sejarah, kebudayaan, serta pentingnya pelestarian warisan bangsa.
