Internationalmedia.co.id melaporkan, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran rudal balistik ke Bandara Internasional Ben Gurion, dekat Tel Aviv, Israel. Klaim ini disampaikan menyusul pernyataan militer Israel yang membenarkan pencegatan sebuah rudal yang diluncurkan dari Yaman pada Rabu (16/7).
Juru bicara militer Houthi, Yehya Saree, dalam sebuah pernyataan video yang dikutip internationalmedia.co.id dari kantor berita AFP, Kamis (17/7), menyatakan bahwa serangan tersebut menggunakan rudal balistik Zulfiqar dan drone. Sasarannya bukan hanya bandara utama Israel tersebut, tetapi juga target militer dan pelabuhan Eilat di selatan Israel.

Serangan ini merupakan bagian dari serangkaian aksi Houthi yang berulang kali melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel sejak perang Gaza dimulai Oktober 2023. Houthi berdalih tindakan tersebut sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina. Sebagai balasan, Israel telah melakukan beberapa serangan udara di Yaman, termasuk di pelabuhan Hodeida awal bulan ini.
Militer Israel sendiri mengonfirmasi pencegatan rudal tersebut setelah sirene peringatan berbunyi di beberapa wilayah. Ironisnya, kejadian ini berbarengan dengan pengungkapan penyitaan 750 ton senjata yang diduga diperuntukkan bagi Houthi oleh pasukan pro-pemerintah Yaman. Komando Pusat AS bahkan menyebut penyitaan tersebut sebagai yang terbesar dalam sejarah, mencakup berbagai persenjataan canggih dari Iran, termasuk sistem rudal dan drone.
Tarek Saleh, pemimpin Pasukan Perlawanan Nasional Yaman, melalui akun media sosial X, merinci temuan tersebut, antara lain sistem rudal, sistem pertahanan udara, radar modern, drone, dan berbagai jenis amunisi. Sebelumnya, Houthi juga melancarkan serangan di Laut Merah dan Teluk Aden, menargetkan kapal-kapal yang dituduh memiliki hubungan dengan Israel, sebagai upaya untuk memaksa Israel mengakhiri konflik di Gaza. Situasi ini semakin memperkeruh kondisi geopolitik di kawasan tersebut.
