Berita mengejutkan datang dari Timur Tengah. Internationalmedia.co.id melaporkan serangan udara Israel yang menyasar pemimpin senior Hamas di Doha, Qatar, telah memicu kemarahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Gedung Putih menyatakan ketidaksetujuan Trump atas tindakan militer Israel di negara sekutu AS tersebut. Klaim AS bahwa mereka telah memperingatkan Qatar sebelum serangan terjadi dibantah oleh Qatar. Negara Teluk itu menegaskan tidak menerima peringatan apa pun hingga serangan berlangsung.
Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS yang besar, mengecam keras serangan yang menargetkan rumah beberapa anggota biro politik Hamas. Tragisnya, seorang anggota pasukan keamanan Qatar tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan tersebut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim serangan itu sebagai balasan atas penembakan di Yerusalem yang menewaskan enam orang dan diakui dilakukan oleh Hamas. Netanyahu menyatakan telah menginstruksikan seluruh badan keamanan untuk bersiap menargetkan pemimpin Hamas.

Militer Israel, IDF, mengklaim serangan tersebut sebagai operasi tepat sasaran yang menyasar pemimpin senior Hamas. Mereka menghubungkan serangan ini dengan insiden pembantaian 7 Oktober 2023 di Israel yang dilakukan Hamas. IDF menegaskan para pemimpin Hamas yang menjadi target telah memimpin operasi terorisme dan bertanggung jawab atas pembantaian tersebut. Pernyataan ini menimbulkan ketegangan baru di kawasan yang sudah rawan konflik. Konflik ini semakin memanas dengan kecaman keras dari Trump, menambah kompleksitas situasi geopolitik di Timur Tengah.

