Internationalmedia.co.id melaporkan, meningkatnya serangan pemukim Israel ilegal ke Masjid Al-Aqsa, situs suci umat Muslim di Yerusalem Timur, membuat Palestina geram dan mendesak PBB untuk segera turun tangan. Aksi penyerbuan yang semakin intensif ini dikhawatirkan akan berdampak serius pada status quo historis dan legal di wilayah tersebut.
Kementerian Luar Negeri Palestina, dalam pernyataan resminya yang dikutip internationalmedia.co.id dari Anadolu Agency pada Senin (7/7), menyatakan keprihatinan mendalam atas tindakan tersebut. Mereka menegaskan bahwa penyerbuan ini berpotensi menimbulkan konsekuensi fatal bagi perdamaian dan stabilitas kawasan. PBB diminta untuk mengambil langkah konkret guna menyelamatkan Yerusalem dan tempat-tempat suci Islam dan Kristen di sana.

Dalam seruannya, Kementerian Luar Negeri Palestina mendesak PBB dan badan-badan terkait untuk bertanggung jawab dan bertindak cepat melindungi Masjid Al-Aqsa dari aksi eskalasi sepihak Israel. Mereka menekankan pentingnya menjaga keutuhan dan keamanan situs suci tersebut bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Masjid Al-Aqsa, yang merupakan situs tersuci ketiga bagi umat Islam, sering menjadi titik konflik antara Israel dan Palestina. Pihak Israel sendiri menyebut area tersebut sebagai Temple Mount, dan mengklaimnya sebagai lokasi dua kuil Yahudi kuno.
Bukan hanya aksi pemukim ilegal yang menjadi perhatian. Menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Keagamaan Palestina, sedikitnya 25 penyerbuan telah dilakukan sepanjang bulan lalu. Lebih memprihatinkan lagi, Gereja Makam Kudus bahkan ditutup selama 11 hari oleh pasukan Israel, mencegah umat Kristen beribadah dengan alasan keamanan. Kunjungan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada 26 Mei lalu, saat perayaan ‘Hari Yerusalem’, semakin memperkeruh suasana. Ben Gvir bahkan terang-terangan menyatakan doa untuk kemenangan dalam perang di lokasi tersebut.
Pendudukan Yerusalem Timur oleh Israel sejak perang Arab-Israel 1967, dan aneksasi seluruh kota pada 1980 yang tak diakui dunia internasional, menjadi latar belakang konflik berkepanjangan ini. Peristiwa ini sekali lagi menyoroti pentingnya peran PBB dalam menjaga perdamaian dan melindungi tempat-tempat suci di kawasan yang rawan konflik.
