Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara tegas mengumumkan bahwa negaranya kini memasuki babak baru yang ia sebut sebagai ‘kesepakatan permanen’. Pernyataan ini muncul setelah gencatan senjata selama sepuluh hari dalam konflik antara Israel dan Hizbullah resmi diberlakukan. Internationalmedia.co.id – News mencatat, Aoun menekankan bahwa Lebanon tidak akan lagi menjadi "arena bagi perang siapa pun."
Dalam pidato yang ditujukan kepada seluruh rakyat Lebanon, yang juga menyinggung kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran, Aoun menyampaikan hal tersebut. Dilansir dari AFP pada Sabtu (19/4/2026), pernyataan ini datang sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata. Lebanon sendiri terseret ke dalam pusaran konflik Timur Tengah sejak 2 Maret, ketika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Respons Israel berupa serangan bertubi-tubi dan invasi darat ke Lebanon telah menewaskan hampir 2.300 jiwa dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.

Menyampaikan pidato pertamanya kepada bangsa sejak gencatan senjata diberlakukan, Presiden Aoun menyatakan, "Sekarang, kita semua berada di hadapan fase baru." Ia melanjutkan, "Ini adalah fase transisi dari upaya mencapai gencatan senjata menuju upaya mewujudkan kesepakatan permanen yang akan melindungi hak-hak rakyat kita, menjaga persatuan tanah air kita, serta menjamin kedaulatan bangsa kita."
Aoun juga menegaskan bahwa pemerintah Lebanon telah berhasil "merebut kembali Lebanon dan kekuasaan pengambilan keputusan Lebanon untuk pertama kalinya" dalam kurun waktu hampir setengah abad. "Hari ini, kita bernegosiasi untuk diri kita sendiri… kita bukan lagi pion dalam permainan siapa pun, atau arena untuk perang siapa pun, dan kita tidak akan pernah menjadi seperti itu lagi," tandasnya, menekankan kemandirian Beirut dalam menentukan nasibnya sendiri.
Sejak Presiden Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam dilantik tahun lalu, pemerintahan Beirut telah mengambil serangkaian keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait Hizbullah. Langkah-langkah tersebut meliputi komitmen untuk melucuti senjata kelompok tersebut pada Agustus, menyusul gencatan senjata November 2024 yang bertujuan mengakhiri konflik sebelumnya dengan Israel. Selain itu, pemerintah juga memberlakukan larangan tegas terhadap aktivitas militer kelompok tersebut setelah pecahnya perang terbaru bulan lalu.

