Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah militer Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya untuk sepenuhnya memberlakukan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran. Pernyataan ini memicu respons keras dari Teheran, yang mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia.
Laksamana Brad Cooper, Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), menyatakan bahwa pasukan AS di kawasan tersebut siap mempertahankan blokade ini selama diperlukan. "Kami memantau setiap kapal Iran di setiap pelabuhan, titik," tegas Cooper kepada wartawan pada Jumat (17/4) waktu setempat. Ia menambahkan bahwa kemampuan AS untuk menjaga blokade ini tidak terbatas waktu, dan mereka "mengawasi setiap pelabuhan Iran."

Sejak blokade diberlakukan Senin lalu, Cooper mengungkapkan bahwa 19 kapal telah mencoba melanggar aturan tersebut, namun semuanya berbalik arah setelah menerima peringatan dari pasukan AS. "Tidak ada kapal yang berhasil atau akan berhasil menghindari pasukan AS," kata Cooper. Meskipun demikian, ia mengakui adanya beberapa kapal yang menarik perhatian khusus dan terus dipantau ketat oleh militer AS, baik di dalam maupun di luar batas blokade.
Sebelumnya, Iran sempat mengumumkan pembukaan Selat Hormuz saat gencatan senjata di Timur Tengah. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa blokade yang diberlakukan oleh Washington akan tetap berlaku hingga kesepakatan penuh tercapai antara kedua negara.
Menanggapi sikap AS, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial X, memberikan peringatan keras. "Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ghalibaf, seraya menambahkan bahwa setiap perlintasan melalui perairan tersebut memerlukan izin dari Iran.
Selat Hormuz sendiri merupakan arteri maritim krusial yang menjadi jalur bagi seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair global. Penutupan selat ini berpotensi memicu gejolak besar di pasar energi dunia dan mengganggu stabilitas ekonomi global.

