Internationalmedia.co.id – News – Sebuah operasi militer mematikan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengguncang Samudra Pasifik. Empat individu yang diduga kuat terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba tewas setelah pasukan AS menyerang sebuah kapal di wilayah Pasifik Timur. Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam upaya AS memerangi kejahatan transnasional di perairan internasional.
Menurut keterangan resmi dari Komando militer AS, serangan tersebut merupakan "serangan kinetik mematikan" terhadap sebuah kapal yang dioperasikan oleh "Organisasi Teroris yang Ditunjuk" di Pasifik Timur. Organisasi ini secara spesifik disebut terlibat dalam operasi perdagangan narkoba berskala besar. "Empat teroris narkoba berjenis kelamin laki-laki tewas dalam insiden ini, dan tidak ada satu pun personel militer AS yang mengalami luka," demikian pernyataan yang dikutip oleh AFP, Kamis lalu.

Insiden yang terjadi baru-baru ini menambah daftar panjang korban tewas dalam kampanye anti-narkoba AS. Sejak September, total 99 orang telah kehilangan nyawa dalam serangkaian serangan serupa yang dilancarkan oleh Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang dicurigai terlibat dalam perdagangan narkoba, baik di Laut Karibia maupun di bagian timur Samudra Pasifik. Ini menunjukkan intensitas dan jangkauan operasi militer AS dalam menekan sindikat narkoba internasional.
Di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump, Washington memang telah meningkatkan tekanan militer di wilayah tersebut. Trump diketahui telah mengawasi pengerahan militer skala besar di lepas pantai Venezuela. Bahkan, dalam minggu yang sama, ia secara tegas mengumumkan blokade terhadap "kapal tanker minyak yang dikenai sanksi" yang berlayar menuju atau dari Caracas, ibu kota Venezuela.
Langkah-langkah agresif ini secara signifikan meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Maduro sendiri berulang kali mengklaim bahwa kampanye yang dilancarkan AS tersebut bukanlah murni untuk memberantas perdagangan narkoba, melainkan merupakan upaya terselubung untuk menggulingkan rezimnya dari kekuasaan. Ini menyoroti dimensi politik yang kompleks di balik operasi militer AS di kawasan tersebut.

