Internationalmedia.co.id melaporkan pernyataan mengejutkan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam sebuah wawancara di acara "Fox & Friends" di Fox News, Trump mengungkapkan harapannya untuk masuk surga. Motivasi di balik harapan tersebut? Upaya perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
Trump mengklaim bahwa membantu kedua negara mengakhiri konflik akan meningkatkan peluangnya untuk mencapai surga. "Saya ingin mengakhiri perang ini," kata Trump seperti dikutip internationalmedia.co.id dari USA Today. "Kita tidak kehilangan nyawa warga Amerika… kita kehilangan sebagian besar tentara Rusia dan Ukraina." Ia kemudian menambahkan, "Saya ingin mencoba dan masuk surga jika memungkinkan. Saya dengar saya tidak baik-baik saja. Saya benar-benar berada di posisi terbawah. Tetapi jika saya bisa masuk surga, ini akan menjadi salah satu alasannya."

Pernyataan Trump ini muncul setelah pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, ketika ditanya mengenai keseriusan pernyataan Trump, menjawab, "Saya pikir presiden serius. Saya pikir presiden ingin masuk surga, seperti yang saya harap kita semua di ruangan ini juga."
Pertemuan Trump dengan kedua pemimpin tersebut telah memicu rencana pertemuan antara Putin dan Zelenskyy untuk membahas perdamaian. Lokasi pertemuan masih dalam pertimbangan, dengan Budapest dan Swiss menjadi kandidat terkuat. Seorang pejabat Gedung Putih menyebutkan Trump telah membahas kemungkinan Budapest dalam pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban. Leavitt menegaskan bahwa AS akan membantu memfasilitasi pertemuan tersebut.
Zelenskyy sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk bertemu langsung dengan Putin. "Saya mengonfirmasi — dan semua pemimpin Eropa mendukung saya — bahwa kami siap untuk pertemuan bilateral dengan Putin," kata Zelensky kepada wartawan, seperti dikutip AFP.
Namun, jalan menuju perdamaian masih terjal. Putin mengajukan sejumlah tuntutan kepada Ukraina, termasuk menyerahkan wilayah Donbas, meninggalkan ambisi bergabung dengan NATO, dan menjauhkan pasukan Barat dari wilayahnya. Meskipun Putin disebut telah sedikit mengendurkan tuntutan teritorialnya dibandingkan Juni 2024, persyaratan ini tetap berat bagi Ukraina. Pihak Ukraina belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan tersebut.

