Internationalmedia.co.id melaporkan pernyataan mengejutkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait operasi anti-narkoba di perairan Karibia. Trump mengklaim AS telah menghancurkan tiga kapal, bukan dua seperti yang dilaporkan sebelumnya, yang diduga membawa narkoba dari Venezuela. Pernyataan ini disampaikannya sebelum keberangkatan ke Inggris. Namun, Trump enggan menjelaskan detail mengenai kapal ketiga, termasuk kemungkinan korban jiwa.
Sebelumnya, pada Senin (15/9), Trump mengumumkan serangan militer AS terhadap sebuah kapal di perairan internasional, menewaskan tiga orang yang disebutnya sebagai "narkoteroris". Serangan ini menyusul insiden serupa awal bulan ini yang menewaskan 11 orang yang diklaim sebagai anggota geng Venezuela, Tren de Aragua. Pemerintah AS telah merilis video kedua serangan tersebut, mengklaim memiliki bukti kuat keterlibatan para korban dalam penyelundupan narkoba. Namun, bukti tersebut belum dipublikasikan secara lengkap. Ironisnya, perdagangan narkoba, menurut hukum AS, bukanlah kejahatan yang berujung hukuman mati.

Serangan-serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Karibia. Peningkatan kekuatan Angkatan Laut AS di wilayah tersebut memicu spekulasi tentang upaya AS untuk menggulingkan rezim Maduro. AS menuduh Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, memimpin kartel kokain dan menaikkan hadiah untuk penangkapannya menjadi US$ 50 juta. Komunitas internasional sebagian besar menolak hasil pemilu Juli 2024 yang memenangkan Maduro kembali, dengan tuduhan kecurangan yang meluas. Saat ditanya pesan untuk Maduro, Trump tegas meminta penghentian pengiriman narkoba ke AS. Misteri seputar kapal ketiga dan detail operasi ini masih menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.
