Internationalmedia.co.id melaporkan, Hamas menyatakan kesiapannya untuk segera memulai kembali negosiasi gencatan senjata di Jalur Gaza. Usulan terbaru yang diajukan mediator menawarkan gencatan senjata selama 60 hari, dengan syarat pembebasan sandera oleh Hamas dan tahanan Palestina oleh Israel. Pengumuman ini disampaikan setelah Hamas berkonsultasi dengan faksi-faksi Palestina lainnya, jelang kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ke Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resmi Jumat lalu, Hamas menegaskan keseriusannya untuk terlibat dalam perundingan guna menerapkan ketentuan dalam usulan gencatan senjata tersebut. Usulan ini sendiri didukung AS dan diklaim Presiden Donald Trump telah disetujui Israel. Sekutu Hamas, Jihad Islam, juga menyatakan dukungannya, namun meminta jaminan agar Israel tidak melanjutkan agresi setelah pembebasan sandera.

Sumber internal yang memahami negosiasi mengungkapkan rincian proposal: gencatan senjata 60 hari, dengan Hamas membebaskan setengah dari sandera Israel yang masih hidup di Gaza (sekitar 22 orang) sebagai imbalan pembebasan tahanan Palestina oleh Israel. Ini bukan upaya pertama. Gencatan senjata sebelumnya yang dimediasi Qatar, Mesir, dan AS telah berhasil menghentikan sementara pertempuran, dengan skema pertukaran sandera serupa.
Trump menekankan keinginannya untuk keselamatan warga Gaza, menyebut mereka telah "mengalami neraka". Netanyahu, di tengah tekanan domestik, juga berjanji untuk memulangkan semua sandera. Dari 251 sandera yang diculik dalam serangan Oktober 2023, 49 masih ditahan di Gaza, termasuk 27 yang dinyatakan tewas oleh militer Israel. Perkembangan ini menjadi sorotan internasional, menandai babak baru dalam konflik berkepanjangan antara Hamas dan Israel.
