Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan perintah tegas yang melarang Israel untuk melanjutkan serangan udara di Lebanon. Pernyataan keras ini, yang disampaikan setelah pengumuman gencatan senjata selama 10 hari, menandai titik balik signifikan dalam konflik regional. Dilansir Internationalmedia.co.id – News, Jumat (17/4/2026), Trump secara eksplisit menyatakan "cukup sudah" terhadap agresi militer Israel di wilayah tersebut.
Melalui platform Truth Social, Trump dengan gamblang menyatakan, "Israel tidak akan lagi membom Lebanon." Ia menambahkan, "Mereka DILARANG melakukannya oleh AS. Cukup sudah!!!" Mantan Presiden AS itu juga menegaskan bahwa situasi di Lebanon, termasuk keberadaan kelompok bersenjata Hizbullah, akan ditangani secara terpisah dari isu Iran dan dengan pendekatan yang tepat.

Larangan keras ini menyusul pengumuman gencatan senjata yang disampaikan Trump pada Kamis (16/4) pagi waktu AS. Gencatan senjata tersebut disepakati berlangsung selama 10 hari, dimulai pada tengah malam waktu setempat di Tel Aviv dan Beirut. Trump mengungkapkan bahwa ia telah melakukan percakapan "luar biasa" dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Bibi Netanyahu, di mana kedua pemimpin sepakat untuk memulai gencatan senjata demi mencapai perdamaian.
Pengumuman gencatan senjata ini merupakan hasil dari pembicaraan langsung yang langka antara Duta Besar Israel dan Lebanon di Washington DC, yang dimediasi oleh Amerika Serikat pada Selasa (14/4). Lebanon sendiri telah terseret ke dalam pusaran konflik Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, menyusul serangan yang dilancarkan kelompok Hizbullah, yang berbasis di Lebanon dan didukung Iran, terhadap Israel. Sejak saat itu, Lebanon telah menjadi sasaran rentetan serangan udara Israel yang menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi. Israel juga dilaporkan mengerahkan pasukan darat ke wilayah selatan Lebanon, dekat perbatasan.
Dengan intervensi langsung dan larangan tegas dari Donald Trump, dinamika konflik di Timur Tengah diperkirakan akan mengalami perubahan signifikan, menyoroti peran sentral AS dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

