Internationalmedia.co.id melaporkan lima berita internasional yang mengguncang dunia hari ini, Jumat (15/8/2025). Ketegangan geopolitik kembali memanas dengan penolakan keras Jerman terhadap rencana pembangunan ribuan rumah baru Israel di Tepi Barat. Berlin mendesak penghentian pembangunan permukiman di wilayah Palestina yang diduduki, menekankan penolakan yang kuat atas pengumuman pemerintah Israel tersebut. Pernyataan tegas ini disampaikan Kementerian Luar Negeri Jerman, seperti dikutip dari AFP dan Al Arabiya.
Di semenanjung Korea, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyatakan komitmennya untuk menghormati sistem politik Korea Utara dan membangun kepercayaan militer di antara kedua negara. Janji ini muncul sehari setelah Korut menolak memperbaiki hubungan dengan Korsel, sebuah sikap yang kontras dengan upaya Lee untuk membuka dialog tanpa prasyarat sejak terpilih. Laporan AFP mengungkap langkah berani Lee yang berbeda dari kebijakan pendahulunya.

Tragedi kematian Zara Qairina Mahathir, bocah perempuan berusia 13 tahun di Malaysia, memicu penyelidikan resmi atas perintah Jaksa Agung. Langkah ini disambut baik oleh Sabah Law Society (SLS) yang berkomitmen mengawasi proses hukum demi kepentingan publik. Presiden SLS, Datuk Mohamed Nazim Maduarin, seperti yang diberitakan The Star, berharap tragedi ini mendorong reformasi nyata untuk melindungi anak-anak.
Peringatan 80 tahun Jepang menyerah dalam Perang Dunia II diwarnai penyesalan mendalam dari Kaisar Naruhito. Didampingi Permaisuri Masako, Kaisar menyampaikan pidato penuh duka cita atas korban perang dan berharap tragedi tersebut tak terulang. Pidato muram ini disampaikan di Nippon Budokan, Tokyo, seperti yang dilansir AFP.
Tensi di Timur Tengah meningkat tajam setelah pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang mendukung gagasan "Israel Raya". Gagasan ini menuai kecaman keras dari negara-negara Arab, yang melihatnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan mereka. "Israel Raya", yang merujuk pada wilayah kekuasaan Raja Salomo, mencakup wilayah Palestina, serta sebagian Yordania, Lebanon, dan Suriah modern, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik.

