Presiden Rusia Vladimir Putin segera menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian setelah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) menemui jalan buntu. Apa sebenarnya yang menjadi topik utama dalam percakapan penting ini? Dilansir dari Internationalmedia.co.id – News yang mengutip kantor berita AFP pada Senin (13/4/2026), Putin menyatakan kesediaannya untuk menjadi penengah dalam upaya mencapai perdamaian di Timur Tengah.
Kremlin, melalui pernyataan resminya, menegaskan bahwa Putin siap memfasilitasi penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik yang berkecamuk di kawasan tersebut. "Vladimir Putin menekankan kesiapannya untuk lebih memfasilitasi pencarian penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik tersebut, dan untuk menengahi upaya mencapai perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah," demikian bunyi pernyataan resmi Kremlin mengenai percakapan telepon tersebut.

Panggilan telepon mendadak dari pemimpin Rusia ini terjadi menyusul kegagalan perundingan antara Iran dan AS yang diinisiasi oleh Pakistan. Kegagalan ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai kelanjutan gencatan senjata di Iran. Menurut laporan Al-Jazeera dan CNN pada Minggu (12/4), perundingan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga gencatan senjata dua pekan yang sedang berlangsung antara kedua negara yang tengah berkonflik.
Perundingan maraton tersebut berlangsung selama 21 jam, dimulai pada Sabtu (11/4) dan berakhir tanpa kesepakatan apa pun pada Minggu (12/4). Delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Pertemuan ini diadakan di Pakistan di tengah masa gencatan senjata dua pekan antara kedua negara yang sedang berkonflik.
Dalam konferensi pers di Islamabad, Vance mengakui adanya "sejumlah diskusi substantif" selama 21 jam tersebut. "Itu kabar baiknya," kata Vance. Namun, ia menambahkan, "Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan."
Menanggapi hasil buntu ini, Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa tidak ada pihak yang seharusnya mengharapkan kesepakatan tercapai dalam satu sesi. "Tentu saja, sejak awal, kita seharusnya tidak mengharapkan untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu," ujar Baghaei, seperti dikutip stasiun televisi pemerintah IRIB.
Dengan kegagalan perundingan langsung dan intervensi Rusia yang menawarkan mediasi, dinamika konflik di Timur Tengah tampaknya akan memasuki babak baru yang lebih kompleks.

