Internationalmedia.co.id – Presiden Rusia Vladimir Putin membuka peluang untuk perundingan damai dengan Ukraina, namun dengan syarat yang tegas. Ia menyatakan bahwa jika Kyiv menolak rencana perdamaian yang diusulkan Amerika Serikat, Moskow tak segan untuk merebut wilayah Ukraina lebih banyak lagi.
Putin mengklaim bahwa rencana perdamaian yang berisi 28 poin, yang kabarnya didukung oleh mantan Presiden AS Donald Trump, dapat menjadi dasar untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama ini. Rencana tersebut, menurut Putin, mengakomodasi beberapa tuntutan utama Rusia, termasuk penolakan terhadap keanggotaan Ukraina di NATO.

"Saya meyakini bahwa hal ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penyelesaian damai final," ujar Putin dalam rapat Dewan Keamanan Rusia, Jumat (21/11). Ia menambahkan bahwa meskipun belum dibahas secara rinci dengan AS, Moskow telah menerima salinan rencana tersebut.
Putin menuding Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya hidup dalam ilusi dengan menolak rencana damai tersebut. Ia menegaskan bahwa pasukan Rusia terus bergerak maju di Ukraina dan akan terus melakukannya kecuali ada kesepakatan damai. Saat ini, Rusia menguasai lebih dari 19 persen wilayah Ukraina.
Presiden Zelensky sendiri telah menolak rencana perdamaian usulan AS tersebut, menyebutnya sebagai "pilihan yang sangat sulit" yang memaksa Ukraina untuk memilih antara kehilangan martabat atau kehilangan dukungan dari sekutu utamanya. Namun, Zelensky berjanji akan mengusulkan alternatif untuk rencana tersebut.
Rencana perdamaian yang ditolak Zelensky itu kabarnya berisi ketentuan yang mengharuskan Ukraina menyerahkan sebagian wilayah timurnya kepada Rusia, memangkas jumlah tentaranya, dan berjanji untuk tidak pernah bergabung dengan NATO. Sebagai imbalannya, Rusia akan diterima kembali ke kelompok negara-negara G8 dan diberi keringanan sanksi.
Putin mengklaim bahwa Rusia telah melakukan sejumlah kompromi seperti yang diminta oleh Washington dalam pembahasan rencana perdamaian ini. Namun, ia menyayangkan bahwa pemerintah AS belum berhasil mendapatkan persetujuan dari pihak Ukraina.
Ancaman Putin ini semakin memperkeruh suasana di tengah konflik yang masih berkecamuk. Apakah Ukraina akan melunak dan menerima rencana perdamaian tersebut, ataukah Rusia akan benar-benar merealisasikan ancamannya untuk merebut lebih banyak wilayah? Perkembangan selanjutnya akan menjadi penentu arah konflik ini.

