Internationalmedia.co.id – News – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan data mengkhawatirkan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Hingga tanggal 22 Agustus 2026, tercatat seluas 1.926 hektare lahan telah hangus dilalap api. Untuk mengatasi situasi genting ini, BNPB mengerahkan armada sembilan unit helikopter dan ribuan personel gabungan dalam operasi pemadaman masif.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, menegaskan bahwa upaya penanganan karhutla di Sumsel melibatkan 11.567 personel gabungan. "Di Palembang kami sudah menggelar kurang lebih ada sembilan unit satgas udara heli patroli, termasuk juga WB dan OMC dalam jenis Caravan, ya," jelas Djohan, merujuk pada penggunaan helikopter untuk patroli, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Sementara itu, fokus penanganan karhutla juga meluas ke Provinsi Riau, di mana skala kebakaran jauh lebih besar. Pihak BNPB mencatat sekitar 16.249 hektare lahan telah terbakar di Riau. Untuk menanggulangi kondisi ini, tujuh unit helikopter, termasuk jenis Bell dan Caravan, serta unit water bombing, telah dikerahkan. Djohan Darmawan menambahkan, 17.764 personel gabungan juga berjibaku di lapangan.
Beberapa wilayah di Riau menunjukkan titik api yang sangat tinggi, khususnya di Pelalawan yang merupakan area hutan lindung. "Termasuk juga di wilayah Bengkalis dan Rokan Hilir. Ini yang menjadi hotspot-hotspot yang tinggi," imbuhnya, menandakan upaya pemadaman di lokasi-lokasi tersebut masih dimaksimalkan.
Tak hanya Sumsel dan Riau, Provinsi Jambi juga menjadi perhatian serius. BNPB mengerahkan enam unit helikopter untuk mendukung penanganan karhutla di Jambi, yang terdiri dari helikopter Bell, satu unit Caravan untuk operasi modifikasi cuaca, dan empat unit water bombing.
Penanganan karhutla ini merupakan upaya kolaboratif lintas kementerian dan lembaga. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) secara intensif memantau penyebaran asap di berbagai provinsi terdampak. Djohan Darmawan mengingatkan, "Kementerian Lingkungan Hidup secara terus-menerus juga mendata tingkat penyebaran asap di lokasi-lokasi provinsi yang terdampak, khususnya di Kalbar maupun di Kalimantan Tengah yang sudah melampaui ambang batas." Oleh karena itu, masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk menggunakan masker, terutama pada pagi hari, mengingat tingginya kadar asap.
