Internationalmedia.co.id – Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, melakukan pendekatan unik saat menjawab pertanyaan dari media Israel dalam sebuah wawancara langka. Abbas memilih untuk menjawab dalam bahasa Arab, meskipun pertanyaan diajukan dalam bahasa Ibrani.
Wawancara yang berlangsung pada Kamis (9/10) tersebut, menjadi sorotan karena Mahmoud Abbas menyampaikan harapannya akan terwujudnya perdamaian antara Palestina dan Israel pasca penandatanganan perjanjian gencatan senjata di Gaza.

"Apa yang terjadi hari ini adalah momen bersejarah. Kami telah berharap – dan terus berharap – bahwa kami dapat mengakhiri pertumpahan darah yang terjadi di tanah kami, baik di Jalur Gaza, Tepi Barat, maupun Yerusalem Timur," ungkap Abbas kepada Channel 12 Israel, seperti dilansir kantor berita AFP.
"Hari ini, kami sangat senang bahwa pertumpahan darah telah berakhir. Kami berharap ini tetap seperti itu, dan bahwa perdamaian, keamanan, dan stabilitas akan terwujud antara kami dan Israel," lanjutnya.
Ketika ditanya mengenai reformasi yang diminta Presiden AS Donald Trump terkait rencana 20 poin untuk mengakhiri perang di Gaza, Abbas menegaskan bahwa proses reformasi telah berjalan.
"Saya ingin mengatakan dengan jujur – kami telah meluncurkan reformasi," tegas Abbas.
"Reformasi ini mencakup gaji tahanan yang telah kami sepakati dengan AS dan yang disetujui AS," tambahnya, merujuk pada pembayaran yang dicairkan oleh Otoritas Palestina kepada keluarga warga Palestina yang dibunuh oleh Israel atau dipenjara di penjara-penjara Israel.
Abbas juga mengumumkan reformasi terhadap skema pembayaran tersebut pada bulan Februari lalu, yang sebelumnya menuai kritik dan disebut sebagai "bayar untuk membunuh". Keputusan ini diambil di bawah tekanan dari AS dan Israel, yang menganggapnya sebagai "pendanaan untuk terorisme."
Dalam wawancaranya dengan Channel 12, Abbas menambahkan bahwa reformasi lain di sektor-sektor seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keamanan sedang dilaksanakan.
"Beberapa telah selesai, dan yang lainnya sedang berlangsung, hingga Otoritas Palestina menjadi model yang mampu terus memimpin rakyat Palestina," pungkas Abbas.
