Internationalmedia.co.id – News – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kini tengah mencermati usulan penyesuaian tarif untuk layanan transportasi umum Transjakarta dan Transjabodetabek. Keputusan final mengenai tarif baru ini, menurut Pramono, sangat bergantung pada perhitungan cermat skema subsidi yang akan dialokasikan oleh pemerintah provinsi.
Laporan dari Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) telah diterima dan kini sedang dalam tahap kajian mendalam, ungkap Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (8/7/2026). "Kami akan segera melakukan perhitungan ulang dalam beberapa minggu ke depan," tegasnya. Ia menambahkan, penetapan kenaikan tarif, termasuk untuk Transjabodetabek, mutlak memerlukan pertimbangan matang mengenai besaran subsidi yang harus disiapkan.

Pembahasan mengenai tarif ini berjalan paralel dengan proses Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bersama DPRD Provinsi DKI Jakarta. Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa isu tarif transportasi umum merupakan salah satu prioritas utama yang akan segera diputuskan.
Pramono juga menjamin bahwa setiap kebijakan tarif yang akan diterapkan nantinya akan mempertimbangkan secara serius kepentingan masyarakat luas. Ia memastikan bahwa 15 golongan masyarakat yang selama ini menikmati fasilitas transportasi gratis akan tetap dilindungi dari penyesuaian tarif.
"Saya dan Pak Wagub berkomitmen penuh untuk mempertimbangkan kebaikan masyarakat. Kami terus menambah jumlah 15 golongan yang mendapatkan fasilitas gratis, sehingga penyesuaian tarif nantinya hanya akan menyasar mereka yang memang memiliki kemampuan," tegas Pramono. Ia kembali memastikan bahwa kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai penerima fasilitas gratis akan terus menikmati layanan tersebut.
Sebelumnya, Ketua DTKJ Sugihardjo telah mengajukan usulan kenaikan tarif. Untuk Transjakarta, diusulkan tarif baru sebesar Rp 5.000, sedangkan untuk Transjabodetabek diusulkan menjadi Rp 10.000.
Sugihardjo menjelaskan, untuk rute luar kota atau Transjabodetabek, tarif yang diusulkan adalah Rp 10.000. Ia menambahkan, usulan ini juga mempertimbangkan potensi integrasi yang lebih luas, tidak hanya antar moda transportasi darat, tetapi juga dengan LRT dan MRT di masa mendatang. "Jika Transjabodetabek nantinya terintegrasi dengan LRT dan MRT, maka semua moda akan terintegrasi," kata Sugihardjo kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Jumat (3/7).
Meskipun terlihat ada kenaikan dari tarif sebelumnya yang Rp 3.500, Sugihardjo menekankan bahwa tarif Rp 10.000 untuk Transjabodetabek akan mencakup integrasi dengan Transjakarta, memungkinkan penumpang membayar satu kali untuk kedua layanan tersebut.
