Tokyo digegerkan oleh insiden kehilangan ponsel kerja seorang staf regulator nuklir Jepang yang berisi daftar kontak rahasia, diduga kuat terjadi saat kunjungan ke China pada November 2025. Kejadian ini, yang baru terungkap ke publik pada Januari 2026, menambah panasnya tensi diplomatik antara Tokyo dan Beijing, terutama setelah pernyataan kontroversial PM Sanae Takaichi mengenai Taiwan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa insiden ini mencuat di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.
Menurut sumber anonim dari Otoritas Regulasi Nuklir Jepang (NRA) yang dikutip oleh AFP, ponsel yang hilang adalah perangkat dinas yang dirancang untuk komunikasi darurat, seperti saat gempa bumi besar. Insiden kehilangan ini dilaporkan ke badan penanganan informasi pribadi Jepang pada November tahun lalu. Meskipun perangkat ini utamanya digunakan untuk panggilan dan pesan teks, bukan untuk mengakses data nuklir sensitif NRA secara langsung, namun isinya memicu kekhawatiran.

Laporan dari media terkemuka Jepang, termasuk Kyodo News dan Asahi Shimbun, menyebutkan bahwa ponsel tersebut menyimpan nama dan detail kontak anggota staf di divisi keamanan nuklir NRA. Informasi mengenai personel di divisi ini tidak dipublikasikan karena sifat pekerjaan mereka yang sangat sensitif, yang menuntut kerahasiaan demi keamanan nasional.
Kyodo News, mengutip sejumlah sumber anonim, merinci bahwa karyawan NRA tersebut diyakini kehilangan ponselnya di Bandara Shanghai pada 3 November 2025. Diduga, ponsel itu terjatuh saat ia mengeluarkan barang-barang dari bagasi kabin selama pemeriksaan keamanan. Karyawan tersebut baru menyadari kehilangan tiga hari kemudian, dan upaya untuk melacak atau menghapus data dari jarak jauh tidak mungkin dilakukan karena perangkat berada di luar jangkauan sinyal.
Terungkapnya kasus ini bersamaan dengan upaya Tokyo Electric Power (TEPCO), operator pembangkit nuklir Jepang, untuk mengaktifkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa. PLTN terbesar di dunia yang berlokasi di Niigata ini akan dioperasikan kembali untuk pertama kalinya sejak bencana Fukushima pada 2011, yang menyebabkan Jepang menghentikan sementara penggunaan tenaga nuklir. NRA saat ini masih mengevaluasi permohonan TEPCO untuk reaktivasi tersebut, menambah lapisan kompleksitas pada situasi keamanan nuklir Jepang.
Insiden kehilangan ponsel ini, meskipun tidak langsung terkait dengan data inti nuklir, memicu kekhawatiran serius tentang potensi kerentanan keamanan informasi di tengah dinamika geopolitik yang rumit. Simak informasi terkini lainnya hanya di internationalmedia.co.id.

