Penerbangan Japan Airlines (JAL) kembali bermasalah. Internationalmedia.co.id melaporkan, seorang pilot JAL yang mabuk menyebabkan penundaan tiga penerbangan, memicu gelombang permintaan maaf dari pihak maskapai dan teguran keras dari pemerintah Jepang. Insiden yang terjadi pada 28 Agustus lalu di Hawaii ini membuat Presiden JAL, Mitsuko Tottori, menggelar konferensi pers untuk menyampaikan permohonan maafnya.
Pilot tersebut, yang kondisi mabuknya mencegahnya menjalankan tugas penerbangan ke Nagoya, Jepang, menyebabkan keterlambatan penerbangan hingga 18 jam untuk salah satu penerbangan. Kejadian ini bukan yang pertama. Pada Desember lalu, JAL sudah pernah menerima peringatan setelah dua pilotnya kedapatan mengonsumsi alkohol sebelum penerbangan dari Melbourne ke Narita. Akibatnya, penerbangan tertunda tiga jam.

Tottori menyatakan JAL akan memperketat pengawasan konsumsi alkohol dan kesehatan seluruh staf. Ia mengakui, insiden ini terjadi meskipun langkah-langkah pencegahan sudah diterapkan sejak Desember lalu berupa larangan konsumsi alkohol bagi awak pesawat selama masa kerja semalam. Namun, langkah tersebut rupanya belum cukup efektif.
Kementerian Transportasi Jepang pun tak tinggal diam. Direktur Keselamatan JAL, Yukio Nakagawa, menerima peringatan tertulis kedua dari pemerintah. Menteri Transportasi Jepang, Hiromasa Nakano, mengungkapkan kekecewaannya dan menekankan pentingnya edukasi keselamatan bagi seluruh karyawan JAL. Ia menyebut terulangnya insiden serupa menunjukkan kegagalan perusahaan dalam hal edukasi keselamatan. Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2018, di mana seorang pilot JAL ditangkap di Inggris karena kadar alkohol dalam darahnya jauh melebihi batas aman. Kini, JAL harus kembali berbenah dan memastikan kejadian serupa tak terulang.

