Internationalmedia.co.id – News – Para petani di wilayah Kasemen, Kota Serang, kini dihadapkan pada situasi genting. Potensi kemarau panjang dan kekeringan yang melanda diprediksi akan menghambat, bahkan menggagalkan, masa tanam ketiga (MT 3) padi. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.
Musim kering yang telah berlangsung selama kurang lebih dua hingga tiga bulan terakhir telah mengubah wajah persawahan di Kasemen. Setelah rampungnya panen padi MT 2, banyak lahan kini mengering, menyulitkan para petani untuk mempersiapkan penanaman berikutnya.

Suriyah, seorang petani perempuan dari Kampung Kebasiran, Kasemen, mengungkapkan keprihatinannya. "Sudah lama kemarau, ada dua bulan atau tiga bulan," ujarnya pada Kamis (20/7/2026), menggambarkan durasi kekeringan yang telah dirasakan. Ia menegaskan, lahannya sudah tidak memungkinkan untuk ditanami padi lagi karena minimnya pasokan air. "Nggak bisa ditanam padi lagi," tegas Suriyah. Untuk menjaga agar tanah tetap produktif dan sekaligus memberinya waktu istirahat, ia memilih untuk menanam mentimun. "Ini tanam bonteng (mentimun) karena udah nggak bisa nanam padi," jelasnya.
Senada dengan Suriyah, Mardani, petani dari Kampung Cangkring, juga merasakan dampak serupa. Ia belum dapat memastikan apakah akan menanam padi pada MT 3 yang diperkirakan akan dimulai sekitar akhir Agustus atau awal September mendatang. "Nanti ngelihat September masih ada airnya apa nggak," katanya, menanti kepastian pasokan air. Saat ini, Mardani terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk memompa air dari saluran irigasi menggunakan disel agar sawahnya tetap teraliri. "Didisel, lumayan pengeluarannya," keluhnya, menyoroti beban tambahan yang harus ditanggungnya.
Kondisi ini menyoroti kerentanan sektor pertanian terhadap perubahan iklim. Para petani di Kasemen kini harus memutar otak mencari solusi dan strategi alternatif agar lahan mereka tetap menghasilkan di tengah ancaman kekeringan yang membayangi, demi keberlangsungan hidup dan ketahanan pangan lokal.
