Bencana alam dahsyat berupa banjir bandang dan tanah longsor skala besar baru-baru ini melanda wilayah perbatasan antara Nepal dan Tiongkok, menelan korban jiwa ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang. Menanggapi tragedi kemanusiaan ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyampaikan duka cita mendalam. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, bencana ini terjadi pada 26 Agustus 2026, mengguncang kawasan Gyirong di Wilayah Otonomi Xizang, Republik Rakyat Tiongkok, serta Distrik Rasuwa di Provinsi Bagmati, Nepal.
Dalam pernyataan resminya yang diunggah melalui akun X, Kemlu RI menegaskan solidaritas penuh kepada pemerintah dan masyarakat RRT serta Nepal. "Indonesia menyampaikan duka cita dan simpati yang mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di wilayah Gyirong, Wilayah Otonomi Xizang, RRT, dan Distrik Rasuwa, Provinsi Bagmati, Nepal, pada 26 Agustus 2026," demikian bunyi keterangan tersebut. Lebih lanjut, Indonesia juga menyuarakan harapan agar seluruh upaya pencarian dan penyelamatan korban, penanganan dampak, serta proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lancar dan efektif.

Dampak bencana ini terekam jelas dalam rekaman CCTV yang beredar luas, memperlihatkan detik-detik mengerikan saat banjir bandang menyapu bangunan gedung bertingkat di perbatasan Nepal dengan Tiongkok. Dilansir dari Channel News Asia dan Reuters, rekaman di Gyirong menunjukkan kepanikan warga yang berlarian menyelamatkan diri sebelum gelombang lumpur raksasa menghantam dan menghancurkan bangunan lintas batas pada Rabu (26/8). Skala kehancuran ini mengindikasikan kekuatan luar biasa dari bencana tersebut.
Data terbaru dari kepolisian Nepal mengonfirmasi setidaknya 157 korban jiwa telah ditemukan, sementara lebih dari 1.300 orang dilaporkan masih hilang pascabanjir bandang. Awalnya, Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, melalui laporan ABC Australia, menduga bahwa gempa bumi menjadi pemicu longsoran salju dan es yang kemudian menyebabkan banjir di sepanjang sungai Bhote Koshi di Rasuwa.
Namun, analisis lebih lanjut dari para pakar iklim dari International Centre for Integrated Mountain Development yang berbasis di Kathmandu menyajikan pandangan berbeda. Mereka meyakini bahwa longsoran gletser kemungkinan besar menjadi penyebab utama banjir dahsyat tersebut. Menurut pernyataan mereka, pengamatan hidrologi menunjukkan peningkatan permukaan air sungai yang drastis, mencapai 9 meter hanya dalam waktu setengah jam pada puncak banjir. "Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang luar biasa," kata mereka, menggarisbawahi fenomena alam yang tidak biasa ini.
