Jakarta – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menunda pemungutan suara krusial mengenai keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Keputusan yang semula dijadwalkan hari ini, Jumat (3/4/2026), kini dialihkan ke Sabtu (4/4). Penundaan ini menambah ketegangan di jalur air vital yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Internationalmedia.co.id – News
Usulan resolusi yang diajukan oleh Bahrain ini bertujuan untuk mengamankan lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz, sebuah koridor maritim yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia. Menurut laporan Aljazeera yang dikutip internationalmedia.co.id, resolusi tersebut akan dipertimbangkan oleh ke-15 anggota dewan.

Inti dari proposal ini, sebagaimana dilaporkan oleh Associated Press dan Reuters, adalah pemberian izin kepada negara-negara untuk "menggunakan semua cara defensif yang diperlukan" guna melindungi kapal-kapal komersial. Namun, prospek pengesahan resolusi ini dinilai tipis. China, sebagai anggota tetap DK PBB dengan hak veto, telah secara tegas menyatakan penolakannya terhadap setiap resolusi yang mencantumkan penggunaan kekuatan militer.
Penundaan ini terjadi di tengah serangkaian peristiwa yang memperkeruh situasi di kawasan. Sebelumnya, DK PBB telah mengesahkan resolusi pada Rabu (11/3) waktu setempat, yang menuntut Iran untuk segera menghentikan serangannya terhadap negara-negara Teluk. Resolusi tersebut disetujui dengan 13 suara mendukung dan dua abstain, menegaskan bahwa serangan Iran melanggar hukum internasional dan menimbulkan "ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional."
Konflik yang memanas di Timur Tengah berawal pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertingginya, memicu eskalasi perang. Teheran merespons dengan melancarkan serangan drone dan rudal di berbagai wilayah, termasuk menyasar negara-negara tetangga yang mengklaim netralitas dan tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk serangan.
Lebih lanjut, Iran juga secara spesifik menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Aksi ini, yang bertujuan untuk merugikan perekonomian global, semakin menegaskan pentingnya resolusi keamanan maritim yang kini tertunda. Dengan penundaan pemungutan suara ini, dunia menanti keputusan krusial yang dapat menentukan arah keamanan pelayaran di salah satu jalur air terpenting di dunia, di tengah bayang-bayang konflik regional yang terus membara.
