Internationalmedia.co.id – News – Sebuah klaim mengejutkan mengguncang jagat intelijen dan hukum Amerika Serikat. Mendiang Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks yang kontroversial, kini diyakini pernah beroperasi sebagai mata-mata untuk Israel. Informasi ini berasal dari seorang informan rahasia Biro Investigasi Federal (FBI) yang menyamar, menambah lapisan misteri pada kasus Epstein yang tak kunjung usai.
Dugaan ini muncul dari jutaan halaman dokumen terkait kasus Epstein yang baru-baru ini dirilis ke publik oleh Departemen Kehakiman AS. Dokumen-dokumen tersebut, yang diakses oleh berbagai media termasuk Anadolu Agency, mengungkap kesaksian seorang informan FBI, yang dalam laporan disebut sebagai Sumber Informasi Rahasia (CHS).

Menurut CHS, pengacara Epstein, Alan Dershowitz, pernah mengungkapkan kepada Jaksa Agung Distrik Florida Selatan saat itu, Alex Acosta, bahwa Epstein "tergabung dalam dinas intelijen AS dan sekutu." Lebih jauh, dokumen tersebut menyebutkan bahwa Epstein, yang diketahui berlatar belakang Yahudi, diduga pernah dilatih sebagai agen intelijen di bawah arahan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak.
Informan FBI itu juga membagikan rekaman panggilan telepon antara Dershowitz dan Epstein. Dalam percakapan tersebut, CHS mencatat bahwa setelah panggilan itu, dinas intelijen Israel, Mossad, akan menghubungi Dershowitz untuk memberikan pengarahan. CHS bahkan meyakini bahwa Dershowitz sendiri telah direkrut oleh Mossad dan menjalankan misi mereka, berdasarkan pernyataan Dershowitz yang mengaku akan memegang senjata kejut sebagai agen Mossad jika ia lebih muda.
Klaim ini semakin diperkuat dengan kedekatan Epstein dengan Ehud Barak. Dokumen yang sama juga mencatat pandangan Barak yang meyakini Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, adalah seorang kriminal. Di tengah persaingan global yang melibatkan Israel, informan FBI tersebut menjadi semakin yakin bahwa Epstein adalah agen Mossad yang direkrut.
Jeffrey Epstein sendiri, yang terdaftar sebagai penjahat seks, ditemukan tewas di sel tahanannya di New York pada tahun 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Kematiannya, yang dinyatakan bunuh diri, telah memicu berbagai teori konspirasi. Sebelum insiden tragis itu, Epstein pernah dihukum pada tahun 2008 atas dakwaan menyediakan anak di bawah umur untuk prostitusi, sebuah kasus yang banyak dikritik karena "kesepakatan istimewa" yang diterimanya. Para korbannya menuduhnya mengoperasikan jaringan perdagangan seks yang luas, melayani para elite politik dan keuangan dunia.
Terungkapnya dugaan keterlibatan Epstein dengan intelijen Israel ini menambah dimensi baru yang gelap pada saga kejahatannya, mengaitkannya dengan lingkaran kekuasaan dan rahasia negara yang jauh lebih dalam dari yang selama ini diketahui publik.

