Internationalmedia.co.id – Otoritas Palestina menuding Israel terlibat dalam praktik "perdagangan manusia" terkait kedatangan misterius 153 warga Gaza di Afrika Selatan (Afsel) pekan lalu. Tudingan ini muncul setelah pesawat yang membawa rombongan tersebut mendarat di bandara OR Tambo, Johannesburg, pada Jumat (14/11) tanpa pemberitahuan atau koordinasi dengan pihak berwenang Palestina.
Kejanggalan mulai tercium saat warga Gaza tersebut tertahan selama 12 jam di dalam pesawat karena masalah dokumen. Pesawat carteran itu terbang dari Bandara Ramon di Israel, transit di Kenya, sebelum akhirnya tiba di Afsel. Pihak imigrasi Afsel awalnya menolak memberikan izin masuk karena ketidakjelasan mengenai tujuan dan durasi tinggal mereka, ditambah tidak adanya stempel keberangkatan dari Israel di paspor mereka.

Meskipun demikian, otoritas Afsel akhirnya mengizinkan 130 orang untuk masuk dengan visa 90 hari, sementara 23 lainnya melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir yang tidak disebutkan. Kementerian Luar Negeri Palestina menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Afsel atas penerimaan "warga kami yang disesatkan".
Namun, pernyataan keras juga dilontarkan, memperingatkan jaringan yang berupaya mengusir warga Palestina, terutama dari Gaza, demi kepentingan Israel. "Kementerian mengimbau rakyat kami, terutama mereka yang berada di Jalur Gaza, untuk berhati-hati dan tidak menjadi korban perdagangan manusia, perdagangan darah, atau agen pengungsian paksa," tegas pernyataan tersebut.
Imtiaz Suleiman, pendiri organisasi bantuan Afsel, Gift of the Givers, mengungkapkan bahwa para penumpang mengaku dibantu Israel untuk meninggalkan Gaza tanpa stempel di paspor, menyebabkan mereka terdampar di negara ketiga. COGAT, badan Israel yang mengkoordinasikan aktivitas di wilayah Palestina, mengklaim bahwa negara ketiga telah setuju menerima warga Palestina tersebut.
Presiden Afsel, Cyril Ramaphosa, menggambarkan situasi ini sebagai "seperti diusir keluar". "Mereka adalah orang-orang dari Gaza yang entah bagaimana secara misterius dinaikkan ke pesawat yang melewati Nairobi dan tiba di sini," ujarnya. Kasus ini memicu kecaman dan pertanyaan mendalam tentang peran Israel dalam memfasilitasi keberangkatan warga Gaza dan implikasinya terhadap masa depan wilayah tersebut.

