Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik baru. Setidaknya tiga kapal yang berlayar dari pelabuhan Iran dilaporkan berhasil menembus blokade militer Amerika Serikat, melintasi jalur laut strategis tersebut. Kejadian ini terjadi meskipun Washington telah memberlakukan blokade ketat yang dimulai pada Senin lalu.
Blokade AS ini diumumkan setelah perundingan damai dengan Iran menemui jalan buntu, menyusul serangkaian serangan yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sebagai respons, Iran sebelumnya juga sempat menutup Selat Hormuz, memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia.

Menurut data pelacakan maritim dari penyedia data Kpler, beberapa kapal berhasil melewati selat itu. Salah satunya adalah kapal pengangkut curah berbendera Liberia, Christianna, yang melintas setelah membongkar 74.000 ton jagung di pelabuhan Bandar Imam Khomeini. Kapal tanker Elpis, berbendera Komoro, juga berhasil melewati selat setelah memuat 31.000 ton metanol dari pelabuhan Bushehr. Kpler juga mencatat Argo Maris sebagai kapal lain yang sukses berlayar dari Iran.
Namun, tidak semua kapal bernasib sama. Militer AS mengklaim telah menghentikan enam kapal dalam 24 jam pertama blokade. Data Kpler juga menunjukkan bahwa kapal tanker Tiongkok, Rich Starry, yang awalnya berhasil melintasi selat melalui rute yang disetujui Iran dan membawa 31.500 ton metanol menuju Oman, kemudian berbalik arah di Teluk Oman. Christianna juga mengalami hal serupa, berbalik arah di lepas pantai Oman tanpa tujuan yang jelas. Kapal-kapal lain yang terlibat termasuk kapal pengangkut curah Manali, kapal kontainer Kashan yang berada di bawah sanksi AS, dan kapal kargo Moshtari.
Para analis maritim telah memperingatkan bahwa sinyal kapal di wilayah tersebut sering terganggu dan dimanipulasi, mempersulit pelacakan yang akurat. Ketidakpastian mengenai tujuan akhir kapal-kapal yang berbalik arah ini menambah misteri dan ketegangan di tengah konflik maritim yang sedang berlangsung. Kejadian ini menyoroti kompleksitas dan risiko navigasi di Selat Hormuz di tengah gejolak geopolitik yang terus memanas.

