Internationalmedia.co.id – News – Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, yang menuding Gedung Putih telah kehilangan independensinya dalam kebijakan luar negeri, bahkan disebutnya telah bertransformasi menjadi "cabang pelapor" bagi Israel. Pernyataan ini diunggah Aref di media sosial X pada Selasa (14/4), sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyebut Wakil Presiden AS JD Vance "melaporkan kepada saya dalam perjalanan pulang dari Islamabad, seperti yang dia lakukan setiap hari." Insiden ini menjadi salah satu dari lima berita terpopuler yang menarik perhatian pembaca internationalmedia.co.id pada hari Rabu (15/4/2026).
Aref tidak segan mengolok-olok situasi tersebut, menyebutnya sebagai "untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang pejabat senior pemerintah memberikan ‘briefing harian’ kepada kepala negara lain!" seperti dilansir Press TV. Komentar ini menyoroti persepsi Iran tentang ketergantungan Washington pada Tel Aviv dalam menentukan arah kebijakan global.

Selain isu panas antara Teheran dan Washington ini, sejumlah perkembangan penting lainnya turut mewarnai panggung internasional.
Salah satunya adalah dukungan penuh Iran terhadap Paus Leo XIV. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, bersama sejumlah pejabat tinggi negara, secara tegas membela Paus Leo XIV yang menjadi sasaran kritik pedas Presiden AS Donald Trump. Paus Leo sebelumnya mengemukakan keberatannya terhadap kebijakan Trump yang dianggap memicu ketegangan dengan Iran dan berpotensi perang. Pezeshkian bahkan mengirimkan pesan khusus kepada pemimpin Gereja Katolik tersebut, mengecam keras "ketidakhormatan" terhadap Paus dan Yesus, yang ia gambarkan sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan. "Penodaan terhadap figur-figur suci semacam itu tidak dapat ditoleransi oleh siapa pun yang menjunjung tinggi kebebasan," tegas Pezeshkian, seperti dikutip Tehran Times.
Ketegangan juga memuncak di Selat Hormuz. Meski Washington memberlakukan blokade militer, setidaknya tiga kapal yang berangkat dari pelabuhan Iran berhasil melintasi jalur strategis tersebut pada Selasa (14/4). Data pelacakan maritim menunjukkan, kapal-kapal ini adalah bagian dari setidaknya tujuh kapal berbendera Iran yang mencoba melewati selat tersebut setelah blokade AS diberlakukan pada Senin. Salah satu yang berhasil adalah kapal pengangkut curah berbendera Liberia, Christianna, yang melintas setelah membongkar 74.000 ton jagung di Bandar Imam Khomeini, demikian laporan AFP mengutip Kpler. Namun, di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim telah berhasil mencegat delapan kapal tanker minyak yang terafiliasi dengan Iran sejak blokade dimulai awal pekan ini. Laporan Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip pejabat AS menyebutkan, pencegatan ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menghentikan seluruh aktivitas perdagangan maritim Iran.
Sementara itu, kekhawatiran global terhadap program nuklir Korea Utara kembali mencuat. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, memperingatkan adanya "peningkatan yang sangat serius" dalam kapasitas Pyongyang untuk memproduksi senjata nuklir. Badan intelijen Korea Selatan meyakini bahwa negara yang terisolasi ini mengoperasikan sejumlah fasilitas pengayaan uranium, komponen vital dalam pembuatan hulu ledak nuklir. Salah satu fasilitas yang disorot adalah reaktor di situs nuklir Yongbyon, yang meskipun sempat dinonaktifkan pasca-perundingan, dilaporkan telah diaktifkan kembali pada tahun 2021.

