Internationalmedia.co.id – News – Teheran mengklaim kemenangan besar atas Amerika Serikat dan Israel, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump menangguhkan serangan militer ke Iran selama dua minggu. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan telah berhasil memaksa Washington menerima rencana 10 poin yang berpotensi mengubah dinamika kekuatan di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan media pemerintah Iran, yang juga dikutip oleh CNN dan Al Jazeera pada Rabu (8/4), rencana 10 poin tersebut mencakup beberapa konsesi signifikan dari pihak AS. Amerika Serikat, secara prinsip, disebut telah menyetujui pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder yang selama ini membelenggu Iran. Selain itu, AS juga akan menarik seluruh pasukan tempurnya dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah.

Lebih lanjut, Iran mengklaim bahwa AS telah menerima hak Iran untuk melakukan pengayaan nuklir. Pengakuan atas kendali Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz, jalur air strategis yang vital, juga menjadi bagian dari kesepakatan. Operasional jalur air tersebut akan dilakukan "dalam koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran," sebuah poin yang menegaskan kedaulatan Teheran atas wilayah tersebut.
Di tengah klaim kemenangan ini, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyerukan persatuan nasional dan melanjutkan perayaan. "Penting untuk menjaga persatuan nasional sepenuhnya selama periode ini dan melanjutkan perayaan kemenangan dengan penuh semangat," demikian pernyataan dewan tersebut, menggarisbawahi pentingnya kohesi internal.
Negosiasi lebih lanjut antara Iran dan AS dijadwalkan akan dimulai di Islamabad, Pakistan. Iran menegaskan akan mengalokasikan waktu dua minggu untuk perundingan ini, dengan kemungkinan perpanjangan atas persetujuan kedua belah pihak. Namun, Iran juga menekankan bahwa negosiasi akan dilakukan "dengan ketidakpercayaan penuh terhadap pihak Amerika," menunjukkan sikap hati-hati dan waspada.
Iran juga mengirimkan peringatan keras kepada AS, menegaskan kesiagaan penuh. "Tangan kita berada di pelatuk, dan begitu musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, kita akan membalasnya dengan kekuatan penuh," tegas pernyataan tersebut, mengisyaratkan bahwa Teheran siap merespons setiap provokasi.
Sebelumnya, Presiden Trump mengumumkan penangguhan serangan atas permintaan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir. Syarat utama penangguhan ini adalah pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz oleh Iran. Trump menyebut ini sebagai "gencatan senjata dua arah," menandakan adanya kesepahaman awal.
Trump menyatakan optimismenya bahwa kesepakatan definitif untuk perdamaian jangka panjang dengan Iran dan stabilitas di Timur Tengah sudah "sangat dekat." Ia mengakui telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan melihatnya sebagai dasar yang "dapat dijalankan untuk bernegosiasi." Hampir semua poin perselisihan di masa lalu disebut telah disepakati, dan periode dua minggu ini akan digunakan untuk merampungkan kesepakatan tersebut.
Menanggapi syarat Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa Iran setuju untuk membuka Selat Hormuz. "Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," tulis Araghchi, mengindikasikan komitmen Iran terhadap gencatan senjata.
Perkembangan ini menandai babak baru yang kompleks dan penuh ketidakpastian dalam hubungan AS-Iran, dengan klaim kemenangan Iran yang berpotensi mengubah lanskap geopolitik kawasan secara signifikan.

