Internationalmedia.co.id – News – Sebuah langkah mengejutkan datang dari Rusia yang dilaporkan telah menarik hampir seluruh stafnya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran. PLTN ini merupakan satu-satunya fasilitas nuklir Iran yang dibangun dan dioperasikan dengan bantuan Moskow. Penarikan ini memicu spekulasi dan kekhawatiran di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Kepala badan energi atom Rusia, Alexei Likhachev, mengonfirmasi penarikan ini pada hari Senin lalu. "Kami memulai rotasi terakhir di stasiun Bushehr," ujarnya, sebagaimana dikutip dari Al Arabiya dan AFP. Sebanyak 108 personel telah dievakuasi, menyisakan hanya 20 orang yang terdiri dari para manajer dan individu yang bertanggung jawab atas keselamatan peralatan vital di fasilitas tersebut.

Keputusan drastis Rusia ini bukan tanpa alasan. Moskow mulai mengevakuasi stafnya karena ancaman serangan udara yang terus membayangi di tengah eskalasi konflik antara AS dan Israel di wilayah Iran. Rusia bahkan telah mengeluarkan peringatan keras, menyatakan bahwa serangan di dekat PLTN tersebut berisiko memicu "bencana radiologi yang jauh lebih dahsyat daripada Chernobyl."
PLTN Bushehr, yang terletak di wilayah selatan Iran, dilengkapi dengan reaktor berkapasitas 1.000 megawatt. Area di sekitar fasilitas strategis ini dilaporkan telah menjadi sasaran serangan setidaknya empat kali sepanjang periode konflik. Bahkan, pada awal bulan ini, sebuah serangan menewaskan seorang penjaga fasilitas, meskipun PLTN itu sendiri tidak mengalami kerusakan, menurut laporan media pemerintah Iran dan analisis citra satelit oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Penarikan staf Rusia ini menandai tingkat kekhawatiran yang serius terhadap stabilitas dan keamanan di kawasan tersebut, menyoroti potensi risiko yang mengancam fasilitas nuklir vital dan dampaknya terhadap perdamaian global.

