Israel menyampaikan permintaan maaf atas serangan terhadap satu-satunya gereja Katolik di Gaza. Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial oleh Kementerian Luar Negeri Israel, seperti dilansir Internationalmedia.co.id dari Aljazeera, Kamis (17/7/2025). Dalam pernyataan tersebut, Kemlu Israel menyatakan duka cita atas kerusakan Gereja Keluarga Kudus dan jatuhnya korban sipil. Klaim "Israel tidak pernah menargetkan gereja atau tempat ibadah" dibantah oleh fakta serangan terhadap puluhan masjid dan gereja selama konflik di Gaza.
Ironisnya, pernyataan ini muncul setelah laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB yang menyatakan Israel melakukan kejahatan kemanusiaan berupa "pemusnahan" dengan menyerang warga sipil yang berlindung di tempat ibadah dan sekolah. Laporan tersebut juga menyebutkan kerusakan lebih dari separuh situs keagamaan dan budaya, serta lebih dari 90 persen gedung sekolah dan universitas di Gaza akibat serangan Israel.

Serangan terhadap Holy Family Church terjadi saat badan pertahanan sipil Gaza melaporkan 18 korban jiwa akibat serangan Israel pada hari yang sama. Patriarkat Latin Yerusalem mengonfirmasi serangan tersebut, menyatakan beberapa orang terluka, termasuk Pastor Paroki, Romo Gabriel Romanelli. Meskipun tidak ada korban jiwa yang dikonfirmasi, gereja mengalami kerusakan. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen Israel terhadap perlindungan warga sipil dan tempat-tempat ibadah.
