Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva secara mengejutkan menawarkan diri sebagai mediator utama dalam upaya meredakan ketegangan yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela. Langkah ini diambil demi mencegah potensi konflik bersenjata yang dapat mengguncang stabilitas kawasan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, tawaran mediasi ini muncul di tengah meningkatnya retorika dan aksi militer antara Washington dan Caracas.
Lula da Silva, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di Amerika Latin, mengungkapkan kekhawatiran mendalam Brasil terhadap eskalasi krisis antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kepada awak media, tokoh sayap kiri berusia 80 tahun ini menegaskan bahwa ia telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa "masalah tidak akan terselesaikan dengan baku tembak, melainkan melalui dialog dan pencarian solusi bersama."

Tawaran bantuan Brasil telah disampaikan kepada kedua kepala negara, dengan tujuan utama "menghindari konflik bersenjata di Amerika Latin." Lula bahkan mengisyaratkan kemungkinan pembicaraan lanjutan dengan Trump sebelum perayaan Natal, guna memperkuat tawarannya. "Kita harus mencapai kesepakatan diplomatik, bukan perang saudara," tegas Lula, menambahkan kesediaannya untuk "membantu Venezuela dan AS berkontribusi pada solusi damai di benua kita."
Di sisi lain, ketegangan ini dipicu oleh serangkaian tindakan keras dari pemerintahan Trump. Washington secara terbuka menuduh Presiden Maduro memimpin kartel perdagangan narkoba. Sebagai respons, AS telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba, menyita tanker minyak, dan menjatuhkan sanksi berat kepada sejumlah kerabat Maduro. Puncaknya, Trump mengawasi pengerahan militer besar-besaran di lepas pantai Venezuela dan mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal minyak yang dikenai sanksi yang berlayar dari dan menuju Caracas.
Maduro sendiri menuding AS tidak hanya memerangi perdagangan narkoba, melainkan berupaya menggulingkan rezimnya. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Lula da Silva. Ia secara terang-terangan mempertanyakan motif di balik operasi militer AS di kawasan tersebut. "Ini tidak mungkin hanya tentang menggulingkan Maduro," ujar Lula. "Apa kepentingan lainnya yang belum kita ketahui?" Ia berspekulasi mengenai kemungkinan adanya kepentingan tersembunyi, seperti cadangan minyak Venezuela, mineral penting, atau logam tanah jarang. "Tidak ada yang pernah menjelaskan secara konkret mengapa perang ini diperlukan," pungkas Lula, menyiratkan keraguan mendalam terhadap narasi resmi AS.

