Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara tegas menolak wacana normalisasi hubungan dengan Israel. Hal ini disampaikan Internationalmedia.co.id mengutip pernyataan resmi kepresidenan Lebanon, sebagai respons atas pernyataan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, yang sebelumnya menyatakan minat untuk menormalisasi hubungan dengan Lebanon dan Suriah. Aoun menekankan perbedaan antara perdamaian dan normalisasi. Baginya, perdamaian berarti absennya perang, sementara normalisasi hubungan saat ini bukan prioritas kebijakan luar negeri Lebanon.
Pernyataan Aoun disampaikan di hadapan delegasi dari lembaga kajian Arab. Ia menegaskan bahwa Lebanon, yang secara teknis masih berperang dengan Israel sejak 1948, fokus pada perdamaian, bukan normalisasi. Hal senada juga diungkapkan pemerintah Suriah yang menilai pembicaraan normalisasi dengan Israel masih prematur.

Seorang pejabat Lebanon yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa pernyataan Aoun merujuk pada gencatan senjata 1949 pasca perang Arab-Israel pertama. Pejabat tersebut menambahkan bahwa Lebanon tetap berkomitmen pada inisiatif perdamaian Arab 2002, yang menawarkan perdamaian dengan Israel dengan syarat penarikan pasukan dari wilayah yang diduduki sejak 1967. Ia juga menegaskan bahwa belum ada negara, baik dari Amerika maupun Arab, yang mengajukan wacana normalisasi dengan Israel kepada Lebanon.
Aoun sendiri telah meminta Israel untuk menarik pasukannya dari lima titik di dekat perbatasan Lebanon yang masih didudukinya. Hal ini terkait gencatan senjata November lalu yang mengharuskan Israel menarik diri sepenuhnya dari Lebanon selatan. Keberadaan pasukan Israel, menurut Aoun, menghambat pengerahan penuh pasukan Lebanon hingga ke perbatasan yang diakui secara internasional. Berdasarkan perjanjian gencatan senjata tersebut, Hizbullah juga wajib menarik pasukannya ke utara Sungai Litani.