Gelombang politik global bergejolak setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa di Caracas, Wakil Presiden Delcy Rodriguez dengan cepat dilantik sebagai presiden sementara, sebuah langkah yang segera disambut baik oleh Rusia. Moskow melihat transisi kepemimpinan ini sebagai upaya krusial untuk memastikan perdamaian dan stabilitas di negara Amerika Latin tersebut.
Kremlin, melalui Kementerian Luar Negerinya, menyatakan dukungannya terhadap transisi kepemimpinan ini, melihatnya sebagai langkah krusial untuk menjamin perdamaian dan stabilitas di negara Amerika Latin tersebut. Moskow secara tersirat menuding adanya "ancaman neokolonial yang terang-terangan" serta "agresi bersenjata asing" yang mengancam kedaulatan Venezuela, tanpa secara eksplisit menyebut Amerika Serikat.

Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Rusia sangat tegas: "Kami dengan tegas menegaskan bahwa Venezuela harus dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang merusak." Lebih lanjut, Rusia menegaskan solidaritas penuhnya kepada pemerintah dan rakyat Venezuela, berjanji untuk terus memberikan dukungan yang diperlukan dalam menghadapi tantangan.
Penangkapan Maduro sendiri terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari, ketika Presiden AS Donald Trump mengerahkan pasukan khusus untuk membawanya ke Amerika Serikat. Maduro, yang dituduh terlibat dalam kasus narkotika, telah berulang kali membantah tuduhan tersebut dan bersikeras bahwa ia tetap merupakan pemimpin sah Venezuela.
Insiden ini menandai penggulingan sekutu dekat Rusia kedua dalam kurun waktu kurang dari setahun, menyusul jatuhnya Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Desember 2024. Meskipun Presiden Vladimir Putin selama ini berhati-hati untuk tidak mengkritik Trump sejak kembali ke Gedung Putih setahun lalu – dengan harapan memperbaiki hubungan bilateral dan menghidupkan kembali kerja sama ekonomi – ia belum memberikan komentar langsung mengenai penggulingan Maduro.
