Internationalmedia.co.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) terpaksa merumahkan ribuan pekerja di sektor nuklir, memicu kekhawatiran akan keamanan dan pemeliharaan arsenal nuklir negara tersebut. Langkah drastis ini diambil sebagai dampak dari shutdown pemerintah yang terus berlanjut dan belum menemukan titik terang.
Lebih dari 1.400 pekerja di Badan Keamanan Nuklir Nasional (NNSA) dirumahkan mulai Senin (20/10) waktu setempat. NNSA merupakan badan vital yang bertanggung jawab atas perancangan, pembuatan, perawatan, dan pengamanan senjata nuklir AS. Keputusan ini diambil setelah pemungutan suara di Kongres gagal mengakhiri shutdown yang telah memasuki minggu keempat.

Menurut juru bicara Departemen Energi AS, sekitar 400 pegawai federal NNSA akan tetap bekerja untuk memastikan perlindungan properti dan keselamatan jiwa. Namun, dengan ribuan pekerja dirumahkan, muncul pertanyaan besar mengenai bagaimana AS akan menjaga keamanan dan integritas hulu ledak nuklirnya.
AS memiliki ribuan hulu ledak nuklir, sebagian di antaranya telah dikerahkan. NNSA mengawasi puluhan ribu kontraktor dan bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup senjata-senjata tersebut. Laporan dari CNN menyebutkan bahwa pemangkasan pekerja akan berdampak pada lokasi-lokasi penting seperti Pantex di Texas dan Y-12 di Tennessee, yang bertugas merakit senjata nuklir.
Shutdown pemerintah AS telah berlangsung selama lebih dari 20 hari, menjadi yang terlama dalam sejarah negara tersebut. Presiden Donald Trump terus menekan Partai Demokrat untuk mencapai kesepakatan, bahkan mengancam dengan pemangkasan layanan publik dan PHK massal lebih lanjut.
Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, mengungkapkan harapan bahwa shutdown akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, ia juga memperingatkan Partai Demokrat tentang kemungkinan "tindakan yang lebih kuat" jika kebuntuan terus berlanjut. Situasi ini semakin memperburuk ketidakpastian dan menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas program nuklir AS.
