Bern, Swiss – Tabir misteri di balik kebakaran maut yang merenggut nyawa sedikitnya 40 orang di sebuah bar resor ski mewah di Pegunungan Alpen Swiss saat perayaan malam Tahun Baru mulai terkuak. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, otoritas berwenang Swiss kini meyakini bahwa lilin kembang api menjadi pemicu utama tragedi memilukan tersebut.
Jaksa setempat, dalam keterangan yang diterima internationalmedia.co.id dari AFP dan Reuters pada Sabtu (3/1/2025), mengungkapkan bahwa penyelidikan awal menunjuk pada lilin kembang api yang diangkat terlalu dekat dengan langit-langit rendah bar Le Constellation. Bar yang terletak di ruang bawah tanah resor ski Crans-Montana ini menjadi saksi bisu tragedi pada Kamis (1/1) dini hari. Para penyidik memfokuskan perhatian pada kembang api setelah menganalisis rekaman video dan kesaksian para korban selamat.

Rekaman video dan foto yang beredar luas, termasuk di platform daring, menunjukkan momen-momen ketika kembang api yang tertancap di botol-botol sampanye diangkat tinggi oleh pengunjung, mendekati langit-langit bar yang rendah. Diketahui, langit-langit tersebut dilapisi dengan bahan busa peredam suara. Beberapa video bahkan memperlihatkan material busa itu mulai terbakar, namun ironisnya, banyak pengunjung – mayoritas berusia belasan akhir hingga 20-an tahun – terus menari, tampaknya tidak menyadari ancaman mematikan yang sedang mereka hadapi.
"Semua indikasi menunjukkan bahwa api bermula dari kembang api atau lilin Bengal yang diikatkan pada botol-botol sampanye," terang Beatrice Pilloud, kepala jaksa wilayah Wallis, dalam konferensi pers Jumat (2/1) waktu setempat. Ia menambahkan, meskipun hipotesis ini mungkin benar, namun belum dikonfirmasi sepenuhnya. "Dari situ, kebakaran yang cepat, sangat cepat, dan meluas pun terjadi," sebut Pilloud.
Penyelidikan juga akan mendalami apakah busa insulasi yang terpasang di langit-langit bar turut berperan dalam penyebaran api yang begitu cepat. Lebih lanjut, Pilloud menegaskan bahwa investigasi akan menentukan apakah ada pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban pidana atas kelalaian yang berkontribusi pada kebakaran maut ini.
Sementara itu, Jacques Moretti, warga Prancis yang merupakan pemilik bar tersebut, bersikukuh kepada harian Swiss Tribune de Geneve bahwa seluruh norma keselamatan telah dipatuhi. "Semuanya dilakukan sesuai dengan peraturan," ujarnya. Moretti dan istrinya, Jessica, yang selamat tanpa cedera, telah diinterogasi sebagai "saksi" dalam kasus ini, meskipun belum ada penetapan tersangka.
Jumlah pasti pengunjung bar saat insiden terjadi masih belum jelas, namun situs Crans-Montana menyebut kapasitas bar mencapai 300 orang di dalam dan 40 di teras. Otoritas setempat memperingatkan bahwa proses identifikasi 40 korban tewas akan memakan waktu berhari-hari. Sebagian besar dari 119 korban selamat kini berada dalam kondisi kritis, membanjiri rumah sakit di Swiss dan memaksa puluhan orang dirujuk ke negara-negara Eropa tetangga untuk perawatan luka bakar khusus.
Komandan kepolisian regional wilayah Wallis, Frederic Gisler, merinci daftar kewarganegaraan para korban luka: 71 warga Swiss, 14 warga Prancis, 11 warga Italia, 4 warga Serbia, serta masing-masing satu warga Bosnia, Belgia, Polandia, Portugal, dan Luksemburg. Gisler menambahkan, status kewarganegaraan 14 korban luka lainnya masih dalam proses identifikasi.

