Venezuela menuduh Amerika Serikat melancarkan serangan rudal dan roket ke area permukiman sipil, memicu pengerahan besar-besaran sumber daya militer untuk menghadapi apa yang disebut sebagai intervensi. Demikian laporan Internationalmedia.co.id – News yang mengutip pernyataan dari Caracas. Insiden yang terjadi pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2023, telah meningkatkan ketegangan antara kedua negara secara signifikan.
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, dalam sebuah pernyataan video yang dibagikan di media sosial, menegaskan bahwa "pasukan AS yang menyerbu telah menodai tanah kami, bahkan sampai menyerang, menggunakan rudal dan roket yang ditembakkan dari helikopter tempur mereka, daerah permukiman yang dihuni warga sipil." Lopez menambahkan bahwa negara Amerika Selatan itu akan meluncurkan "pengerahan besar-besaran semua kemampuan darat, udara, laut, sungai, dan rudal… untuk pertahanan komprehensif."

Pihak berwenang Venezuela sedang mengumpulkan informasi mengenai korban luka dan tewas akibat "serangan keji dan pengecut" Washington tersebut. Serangan ini dilaporkan menghantam daerah permukiman di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela di selatan Caracas, serta di negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira yang mengelilingi ibu kota. Ledakan keras mengguncang Caracas sekitar pukul 02.00 pagi waktu setempat pada Sabtu, 3 Januari, menyebabkan jendela-jendela bergetar di banyak lingkungan. Ledakan serupa juga tercatat di kota-kota lain di seluruh negeri.
Suara pesawat terbang terdengar di atas kepala selama hampir satu jam di ibu kota, sementara ledakan terus berlanjut. Beberapa area di Caracas juga mengalami pemadaman listrik. Lopez menyampaikan "kecaman keras" Venezuela terhadap serangan AS, menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional."
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan melalui platform Social Truth bahwa AS secara sukses melancarkan "serangan skala besar terhadap Venezuela". Trump bahkan mengklaim bahwa Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri. Namun, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez mengakui pemerintah tidak mengetahui keberadaan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores menyusul rentetan serangan AS terhadap area ibu kota Caracas pada Sabtu dini hari.
Situasi di Venezuela saat ini diselimuti ketidakpastian, dengan tuduhan serius dari Caracas dan klaim kemenangan dari Washington, menyisakan pertanyaan besar mengenai stabilitas politik dan keamanan di kawasan tersebut.
