Internationalmedia.co.id – Sebuah babak baru dalam sejarah hubungan Amerika Serikat dan Suriah akan segera terukir. Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, dijadwalkan melakukan kunjungan bersejarah ke Gedung Putih untuk bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump. Momen penting ini terjadi hanya sehari setelah AS secara resmi menghapus nama Sharaa dari daftar hitam terorisme.
Kunjungan yang dilansir AFP pada Minggu (9/11/2025) ini menjadi yang pertama kalinya bagi seorang presiden Suriah sejak negara itu merdeka pada tahun 1946. Meskipun sebelumnya Sharaa pernah bertemu Trump di Riyadh, Arab Saudi, pada bulan Mei lalu, kunjungan ke Gedung Putih memiliki makna simbolis yang jauh lebih besar.

Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, mengungkapkan bahwa Sharaa diharapkan menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan aliansi internasional pimpinan AS dalam memerangi ISIS. Selain itu, AS juga berencana membangun pangkalan militer di dekat Damaskus untuk memfasilitasi koordinasi bantuan kemanusiaan dan memantau perkembangan hubungan antara Suriah dan Israel.
Keputusan Departemen Luar Negeri AS untuk menghapus Sharaa dari daftar hitam pada Jumat (7/11) lalu, disambut baik oleh banyak pihak. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menjelaskan bahwa pemerintahan Sharaa telah memenuhi tuntutan AS, termasuk upaya pencarian warga AS yang hilang dan penghancuran sisa-sisa senjata kimia.
"Tindakan ini diambil sebagai pengakuan atas kemajuan yang ditunjukkan oleh kepemimpinan Suriah setelah kepergian Bashar al-Assad dan lebih dari 50 tahun penindasan di bawah rezim Assad," ujar Pigott. Ia menambahkan bahwa penghapusan daftar hitam ini akan mendorong keamanan dan stabilitas regional serta proses politik yang inklusif, dipimpin dan dimiliki oleh Suriah.
Sebelumnya, Sharaa juga telah melakukan kunjungan bersejarah ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan September lalu, di mana ia menjadi presiden Suriah pertama dalam beberapa dekade yang berpidato di hadapan Majelis Umum PBB di New York.
Sejak berkuasa, para pemimpin baru Suriah terus berupaya melepaskan diri dari masa lalu yang penuh kekerasan dan menampilkan citra moderat yang lebih dapat diterima oleh rakyat Suriah dan dunia internasional.
Direktur Program AS International Crisis Group, Michael Hanna, menilai kunjungan ke Gedung Putih sebagai bukti komitmen AS terhadap Suriah yang baru dan momen simbolis bagi pemimpin baru negara tersebut.
Sharaa diperkirakan akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari dana bagi pembangunan kembali Suriah setelah 13 tahun perang saudara yang brutal. Bank Dunia memperkirakan biaya pembangunan kembali Suriah mencapai USD 216 miliar.

