Ketegangan yang mencekam Timur Tengah selama lebih dari sebulan akhirnya mereda. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan gencatan senjata dua minggu dengan Iran. Keputusan ini datang setelah serangkaian peristiwa dramatis, dimulai dengan serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari lalu. Iran membalas dengan gencar, menyerang pangkalan militer AS di berbagai negara Teluk, sementara Trump sendiri tak henti melontarkan ancaman keras. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa pengumuman ini menandai titik balik yang tak terduga dalam konflik yang mengancam stabilitas global.
Perjalanan menuju gencatan senjata ini diwarnai oleh pernyataan-pernyataan kontradiktif dari Trump, yang kerap berubah dari optimisme perdamaian hingga ancaman pemusnahan total. Berikut adalah kronologi pernyataan Trump yang menggambarkan pasang surut ketegangan tersebut:

1 Maret: Kabar Kematian Khamenei Mengguncang Dunia
Sehari setelah serangan 28 Februari, Trump mengumumkan kematian Ali Khamenei melalui platform media sosial Truth miliknya. "Khamenei, salah satu individu paling keji dalam sejarah, telah tiada," ujarnya, seperti dilansir AFP. Iran segera membalas dengan sumpah balas dendam dan menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, sebuah langkah yang tidak ditanggapi oleh Trump.
9 Maret: Klaim Kemenangan Dini dan Kekuatan Iran yang Lumpuh
Hanya sepekan setelah konflik, Trump dalam wawancara telepon dengan CBS News mengklaim perang "sudah sangat tuntas, hampir sepenuhnya." Ia meremehkan kekuatan militer Iran, menyebut angkatan laut, komunikasi, dan angkatan udaranya lumpuh, serta rudal dan drone mereka hancur di mana-mana, termasuk pabrik pembuatannya.
14 Maret: Seruan Bantuan NATO untuk Membuka Selat Hormuz
Dengan Selat Hormuz yang ditutup Iran, banyak negara terdampak. Trump menyerukan negara-negara NATO, termasuk Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk membantu membuka jalur vital tersebut demi menjaga keamanan dan kelancaran perdagangan global. Ia berharap negara-negara yang terdampak oleh pembatasan buatan ini akan mengirimkan kapal perang.
20 Maret: NATO Disebut ‘Macan Kertas’ dan Pengecut
Frustrasi dengan kurangnya respons, Trump menyindir NATO sebagai "macan kertas" dan "pengecut." Ia mengkritik negara-negara anggota yang mengeluh tentang harga minyak tinggi namun enggan membantu membuka Selat Hormuz, yang disebutnya sebagai "manuver militer sederhana" dengan risiko sangat kecil.
24 Maret: Klaim Negosiasi Rahasia dengan Tokoh Penting Iran
Trump sempat mengungkapkan bahwa AS sedang bernegosiasi dengan "tokoh penting" di Iran, meski bukan Mojtaba Khamenei. Dilansir CNN, ia mengklaim AS telah melumpuhkan kepemimpinan Iran di berbagai fase, dan sedang berurusan dengan seseorang yang diyakininya paling dihormati.
31 Maret: Janji Akhiri Perang, Disusul Ancaman Mengerikan
Trump kembali menyatakan perang akan segera berakhir, mungkin dalam "dua minggu atau beberapa hari lebih lama." Namun, di hari yang sama, ia melontarkan ancaman mengerikan di Truth Social: menyerang infrastruktur energi Iran seperti pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
2 April: Ancaman ‘Kembali ke Zaman Batu’
Tidak berhenti di situ, Trump memperingatkan bahwa AS akan menyerang Iran "sangat keras" dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Dilansir CNN, ia berjanji untuk "membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada."
7 April: Peringatan ‘Kematian Peradaban’ Menjelang Tenggat Waktu
Puncak dari retorika keras Trump terjadi menjelang tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz. Ia mengancam "seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali," seperti dilansir Aljazeera. Meski demikian, ia juga mengklaim menginginkan "perubahan rezim yang lengkap dan total" di Iran.
8 April: Gencatan Senjata yang Mengejutkan dan Harapan Perdamaian
Setelah serangkaian ancaman mematikan, Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu. Keputusan ini diambil setelah percakapan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir. Dalam pernyataan yang diunggah akun X Gedung Putih, Trump memberikan syarat utama: pembukaan penuh, segera, dan aman Selat Hormuz oleh Iran.
Trump juga menyebut adanya proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi, menyatakan bahwa kesepakatan jangka panjang untuk perdamaian di Timur Tengah "sudah sangat dekat." Ia percaya bahwa periode dua minggu ini akan memungkinkan kesepakatan tersebut diselesaikan dan dirampungkan.
Perjalanan konflik AS-Iran yang penuh gejolak ini menunjukkan dinamika diplomasi yang kompleks dan tak terduga di bawah kepemimpinan Donald Trump. Dari ancaman pemusnahan hingga janji perdamaian, dunia kini menanti apakah gencatan senjata dua minggu ini akan benar-benar menjadi awal dari era baru di Timur Tengah.

