Kehadiran kapal induk bertenaga nuklir Amerika Serikat, George Washington, di perairan Manila, Filipina, Kamis (3/7), menyita perhatian dunia. Internationalmedia.co.id melaporkan, kunjungan kapal induk kelas Nimitz ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan dan peningkatan kerja sama pertahanan antara AS dan Filipina sebagai penangkal klaim teritorial China.
Kunjungan George Washington bertepatan dengan kedatangan kapal induk pertama buatan China, Shandong, di Hong Kong. Shandong, yang sebelumnya berlatih di perairan Pasifik Barat bersama Liaoning, kapal induk China lainnya, tiba di Hong Kong setelah melakukan latihan tempur. Beijing sendiri mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, jalur perdagangan maritim global yang vital, meskipun klaim tersebut bertentangan dengan hukum internasional.

Letnan Komandan Mark Langford, juru bicara kapal induk AS, menegaskan komitmen Angkatan Laut AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Ia menyebut kunjungan tersebut sebagai demonstrasi komitmen terhadap stabilitas regional, dan menekankan hubungan kuat antara AS dan Filipina sebagai sekutu lama dan penting.
Peningkatan kerja sama pertahanan antara Manila dan Washington semakin kentara sejak Presiden Ferdinand Marcos Jr. menjabat pada 2022. Kedua negara, yang terikat perjanjian pertahanan sejak 1951, semakin sering menggelar latihan maritim bersama di Laut China Selatan. Puncaknya, latihan gabungan antara penjaga pantai Filipina dan AS di perairan Filipina pada Mei lalu.
Laporan Departemen Pertahanan AS bulan Desember lalu menyebutkan China memiliki armada laut terbesar di dunia, dengan lebih dari 370 kapal dan kapal selam. Kehadiran George Washington di Filipina pun dinilai sebagai langkah strategis AS dalam merespon kekuatan maritim China yang terus berkembang di kawasan tersebut.
