Internationalmedia.co.id – News Kanselir Jerman Friedrich Merz telah mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera mengakhiri konflik bersenjata di Lebanon selatan. Desakan ini juga disertai permintaan untuk memulai pembicaraan damai langsung dengan pemerintah Lebanon, demikian disampaikan seorang juru bicara pemerintah Jerman pada Selasa, 14 April 2026, seperti dilansir AFP.
Dalam percakapan telepon dengan Netanyahu, Merz juga mengungkapkan "keprihatinan mendalamnya" terkait perkembangan di wilayah Palestina. Ia secara tegas menuntut agar "tidak boleh ada aneksasi sebagian Tepi Barat secara de facto," menekankan pentingnya menjaga status quo wilayah tersebut.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa Jerman siap memberikan dukungan berkelanjutan untuk upaya "mencapai kesepahaman diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran" terkait perang yang dilancarkan oleh Israel dan AS pada 28 Februari. Kanselir Merz, yang awalnya menyambut baik serangan AS-Israel, kini telah mengubah fokusnya menjadi kekhawatiran serius. Pergeseran ini dipicu oleh potensi dampak ekonomi global yang semakin parah serta ancaman serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk, yang berisiko mengubah konflik menjadi perang regional yang lebih luas.
"Jerman siap berkontribusi untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, namun hanya setelah penghentian permusuhan dan dengan syarat kondisi yang diperlukan terpenuhi," jelas juru bicara tersebut.
Sebelum perang, Selat Hormuz merupakan jalur laut vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kini, pengiriman melalui selat tersebut sebagian besar terhenti akibat ancaman Iran untuk menyerang kapal tanker. Situasi semakin rumit setelah Presiden AS Donald Trump mendeklarasikan blokade angkatan laut parsial di Selat Hormuz menyusul kegagalan negosiasi dengan Iran pada akhir pekan lalu.

